Jumat, 04 Maret 2011

Rumah Idaman “Apersi Berani Tawarkan Rumah Murah Harga Rp 21 Juta” plus 2 more

Rumah Idaman “Apersi Berani Tawarkan Rumah Murah Harga Rp 21 Juta” plus 2 more


Apersi Berani Tawarkan Rumah Murah Harga Rp 21 Juta

Posted: 04 Mar 2011 12:37 PM PST

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), Eddy Ganefo mengatakan pihaknya berani menawarkan harga rumah murah lebih rendah menjadi Rp 21 Juta - Rp 22 Juta.

Menurut Eddy, pihaknya mampu memberikan spesifikasi harga lebih murah dari program Kemenpera di kisaran harga Rp 25 Juta. "Kami menyebutnya Rumah Kuntum, ibarat bunga yang belum mekar," katanya saat dihubungi Kompas.com di Jakarta, Jumat (4/3/2011) petang.

Nah, bagaimana komposisi rumah seharga Rp 21-22 juta ini? Eddy memaparkan atap rumah dibuat dari seng, rangkanya dari kayu, dindingnya dari batako, lantai floor, ada jendela, pintu, dan jamban, namun tidak ada plafonnya.

"Ini ukurannya 36 meter persegi, bisa dimekarkan oleh pemiliknya. Setelah memutuskan untuk kredit nanti kami akan memberikan pelatihan bagaimana mengerjakan sendiri ruang-ruang di dalam rumah ini," jelas Eddy.

Dari segi kesehatan, Eddy mengatakan rumah kuntum ini memenuhi unsur-unsur kesehatan. Dimana dinding dari batako dan atap dari seng dibuat rapi sehingga angin tidak tembus ke dalam rumah. "Segi kesehatannya sudah memenuhi, hanya saja dari sisi penglihatannya saja yang harus ditata lagi," jelasnya.

Berani menawarkan rumah dengan harga lebih murah, Eddy mengatakan tetap ada syaratnya. "Kami meminta pemerintah menyediakan lahan, pembangunan infrastruktur, pembangunan fasilitas umum, dan mempermudah perizinan. Harga ini untuk bangunan fisiknya saja," kata Eddy. (Natalia Ririh)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Apersi Bersedia Bangun Rumah Murah

Posted: 04 Mar 2011 12:07 PM PST

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah Realestat Indonesia (REI) mengaku siap apabila diberi kesempatan oleh pemerintah dalam membangun rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR, Asosiasi Pengembangan Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) juga bersedia membangun rumah murah.

Kalau Apersi diberikan kesempatan oleh pemerintah untuk membangun rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah kami siap.

-- Eddy Ganefo

"Kalau Apersi diberikan kesempatan oleh pemerintah untuk membangun rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah kami siap," kata Eddy Ganefo, Ketua Apersi saat dihubungi Kompas.com, Jumat (4/3/2011) petang.

Meski siap untuk membangun rumah murah, Eddy mensyaratkan beberapa hal yang harus dipenuhi oleh pemerintah. Syarat tersebut seperti penyediaan lahan, pembangunan infrastruktur, pembangunan fasilitas umum, dan masalah perizinan.

"Syarat ini harus disediakan oleh pemerintah, karena harga murah itu untuk harga fisik bangunannya saja, dimana sesuai ketentuan undang-undang minimal seluas 36 meter persegi," ujar Eddy.

Dalam penyediaan rumah murah, Eddy menyoroti peran pemerintah daerah yang acapkali tidak melaksanakan kebijakan pemerintah pusat. "Pemerintah pusat harus intervensi kalau mau program ini berhasil. Selama ini pemerintah daerah tidak melaksanakan kebijakan pusat," tegasnya.

Program rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan dibawah Rp 2,5 Juta per bulan ini berawal dari keprihatinan yang diutarakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan banyaknya masyarakat yang tak memiliki rumah layak.

Presiden menanyakan terobosan pembangunan rumah murah seharga Rp 5 - 10 Juta. Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) lantas merumuskan rumah murah seharga Rp 20-25 Juta, dengan angsuran Rp 250.000 selama 15 tahun. Saat ini, program rumah murah masih dalam pembahasan Kemenpera bersama beberapa instansi terkait untuk mencari formula yang tepat. (Natalia Ririh)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Serba-serbi Cat Interior Vs Eksterior

Posted: 04 Mar 2011 09:51 AM PST

KOMPAS.com - Apa perbedaan cat untuk interior ataupun eksterior? Cat untuk eksterior (bagian luar rumah) digunakan sebagai perlindungan terhadap hujan dan sinar matahari, sedangkan cat interior (bagian dalam rumah) lebih menonjolkan aspek estetikanya.

Jadi, cat interior jelas tidak bisa digunakan untuk eksterior. Sebaliknya, cat eksterior bisa digunakan untuk interior, tetapi harganya akan menjadi mahal.

Cat interior dapat dilihat dari kehalusan penampilan lapisan cat dan warnanya. Juga jenis cat tertentu mudah dibersihkan kalau ada noda/kotoran, agar memudahkan perawatan, dilihat dari tingkat kilapnya, biasanya cat tembok berbahan dasar air dapat dibedakan menjadi 2 yaitu doff dan semi kilap.

Yang juga penting, bebas dari kandungan logam berat misalnya : lead (Pb), cadmium (Cd), chromium (Cr) dan merkuri (Hg).

Sedangkan cat eksterior, di samping memberi aspek estetika pada tembok dan bebas dari kandungan logam berat, juga berfungsi melindungi dinding tembok dari cuaca.

Dinding tembok dengan terpaan sinar matahari, hujan, plus perubahan suhu akibat perubahan cuaca membuat dinding luar cepat mengalami kerusakan seperti dinding retak-retak.

Itu perlunya cat yang tahan terhadap cuaca agar tidak mudah rusak. Kerusakan dinding menyebabkan rembesan air pada saat musim hujan ke dinding dalam. Biasanya menimbulkan flek-flek pada dinding dalam.

Di samping itu cat eksterior jenis tertentu dapat menutupi terjadinya retak rambut pada tembok.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read our FAQ page at fivefilters.org/content-only/faq.php
Five Filters featured article: Comment Is Free But Freedom Is Slavery - An Exchange With The Guardian's Economics Editor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar