Rabu, 15 Juni 2011

Rumah Idaman “Bambu Kuning, Bukan Sekadar Tampil Beda” plus 2 more

Rumah Idaman “Bambu Kuning, Bukan Sekadar Tampil Beda” plus 2 more


Bambu Kuning, Bukan Sekadar Tampil Beda

Posted: 16 Jun 2011 01:19 AM PDT

KOMPAS.com - Bahkan tanaman yang tak istimewa pun bisa tampil unik dengan cara tanam yang kreatif. Tanaman hanyalah tanaman sampai seorang desainer taman memberinya nilai tambah.

Dengan merangkainya bersama tanaman lain, menempatkannya di posisi yang tepat di taman, atau menanamnya dalam sebuah pot terakota cantik adalah beberapa cara untuk menambah nilai tersebut.

Sama halnya dengan bambu kuning (Phyllostachys sulphrurea) ini. Anda mungkin sering melihatnya sebagai tanaman pagar, pembatas taman, atau tumbuh liar di tepi jalan.

Di tangan Andie, tanaman bambu kuning dapat tampil sangat unik. Desainer taman ini menanam bambu dalam posisi miring. Bukan sekadar ingin tampil beda. Ia menciptakan kanopi hidup dari cara menanam bambu yang unik ini.

Andie juga melengkapi uniknya display bambu ini dengan menggantung tanaman tilandsia (Tillandsia usneoides) dan puluhan aksesori kristal. Bentuk tetesan air aksesori kristal yang digantung di batang-batang bambu mampu memantulkan cahaya matahari. Hasilnya, sebuah pemandangan unik di bawah rimbun dedaunan bambu.

Terinspirasi?

Lihat taman rumah Anda. Ada banyak potensi di sana. Eksplorasi pohon dan semak yang perlu sedikit sentuhan agar terlihat lebih cantik. Selamat berkebun!

(Tigor C. Siahaan)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Sori... Pedestrian Itu untuk Mobil atau Manusia Sih?

Posted: 15 Jun 2011 08:21 PM PDT

KOMPAS.com - Bila suatu hari Anda sengaja ingin menikmati kota Jakarta sambil berjalan kaki, pilihan area pedestrian yang nyaman ada di seputar Monumen Nasional (Monas), kawasan Menteng, atau taman-taman kota. Lantas, bagaimana dengan area untuk pejalan kaki di kawasan lainnya? Bukankah sudah tidak ada? 

Jawabannya, area tersebut bukan tidak ada. Hanya saja, sarana untuk pejalan kaki di kawasan lainnya masih jauh dari kata ideal.

"Yang kita lihat banyak trotoar menjadi tempat mobil parkir. Sebenarnya, pedestrian ini untuk mobil atau manusia?" kata arsitek Firman Herwanto dalam presentasi sayembara gagasan desain "Smart Pedestrian Hub" yang diadakan leh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta dan Bumi Hijau Mortar Utama, Rabu (15/6/2011).

Firman mengatakan, area pejalan kaki saat ini tampaknya menjadi tempat publik yang tidak dipikirkan desainnya.

"Area pejalan kaki ada, tetapi dibuat asal jadi. Padahal, pedestrian adalah salah satu pusat perhatian karena di situlah banyak mata memandang," katanya.

Keinginan dan kebutuhan publik mendapatkan sarana yang nyaman sudah banyak mengemuka. Hanya, lanjut Firman, saat ini publik semakin kritis dan menuntut sarana tersebut.

"Permasalahan seperti ini banyak dialami negara-negara berkembang selain Indonesia. Namun, banyak juga yang mengambil kebijakan berorientasi kepada publik," ujarnya.

Contohnya saja di Bogota, Kolombia. Kota dengan tingkat kriminalitas tinggi ini menerapkan kebijakan transportasi yang ramah pada kebutuhan publik. Yaitu, kebijakan agar 300.000 - 400.000 penduduk kota itu menggunakan transportasi sepeda, Mass Rapid Transportation (MRT), dan berjalan kaki.

"Sudah saatnya pemerintah sadar untuk peduli masalah sarana transportasi dan fasilitas publik," katanya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Kaca Inlay, Penghalau Panas yang Minim Perawatan

Posted: 15 Jun 2011 03:17 PM PDT

TABLOID RUMAH

Sebagai elemen dekoratif, kaca inlay bukan saja memiliki nilai seni tinggi, tetapi juga dapat digunakan sebagai penghalau atau insulasi panas.

shutterstock

Setelah terpasang, kerajinan kaca inlay cukup dibersihkan secara rutin agar terhindar dari debu.

shutterstock

Banyaknya lapisan dan rumitnya cara pembuatan ternyata berbanding terbalik dengan aplikasi dan perawatannya.

KOMPAS.com — Sebagai elemen dekoratif, kaca inlay memiliki nilai seni yang tinggi. Tetapi, tak banyak yang tahu bahwa elemen ini dapat juga digunakan sebagai penghalau atau insulasi panas. Bagaimana cara kerjanya?

Untuk mengetahui cara kerjanya, kita perlu tahu lapisan penyusunnya. Jika diuraikan satu per satu, produk kaca inlay ini memiliki tiga lapis utama. Lapis yang pertama adalah kaca dasar. Yang kedua adalah kaca motif yang menempel pada kaca dasar yang kemudian ditutup dengan kaca dasar lagi sebagai lapis ketiga.

Adapun antara kaca dasar bermotif dan lapis ketiga terdapat ruang kosong. Ruang kosong inilah yang berfungsi sebagai toleransi pemuaian kaca sekaligus untuk menginsulasi panas sehingga udara panas akan terjebak di dalamnya. Akibatnya, suhu ruang yang menggunakan kaca inlay dapat ditekan.

Banyaknya lapisan dan rumitnya cara pembuatan ternyata berbanding terbalik dengan aplikasi dan perawatannya. Hanya dibutuhkan sebuah bingkai (frame), biasanya berbahan UPVC, aluminium, kayu, batu alam, atau besi, sebagai "pegangan". Setelah terpasang, kerajinan kaca inlay cukup dibersihkan secara rutin agar terhindar dari debu.

"Hanya saja, hindarkan kaca dari segala bentuk benturan," saran Wiguno Wiranto, pemilik perusahaan Inlay Aldira Glass.

Risiko yang besar saat proses pembuatan dan pengiriman tentu berdampak pada harga. Untuk setiap meter persegi, inlay Aldira Glass mematok harga Rp 2 juta-Rp 8 juta. Harga ini sudah termasuk biaya desain dan pemasangan. Untuk produk yang bernilai seni tinggi, minim perawatan, dan tidak pasaran, harga ini pun menjadi masuk akal. Mau coba? (Bernadetta Tungga Aditya)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar