Rabu, 22 Juni 2011

Rumah Idaman “Candra Naya, Cagar Budaya di Kawasan Superblok Modern” plus 2 more

Rumah Idaman “Candra Naya, Cagar Budaya di Kawasan Superblok Modern” plus 2 more


Candra Naya, Cagar Budaya di Kawasan Superblok Modern

Posted: 23 Jun 2011 04:40 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Zaman sekarang, ketika kebanyakan bangunan modern merobohkan bangunan-bangunan kuno, pemandangan di Green Central City justru sebaliknya. Cagar budaya bersejarah Candra Naya justeru tetap dibiarkan berdiri dan dilestarikan.

Chief Operating Officer Green Central City (GCC) Martono Hadipranoto mengungkapkan, bangunan berumur dua abad tersebut justeru hendak dijadikan ikon utama bagi kompleks Green Central City sehingga menjadi landmark Jakarta Kota.

"Fisiknya berupa Green Central City, tetapi jiwanya ada di Candra Naya," kata Martono kepada Kompas.com, Kamis (23/6/2011) .

Martono mengatakan, tinggal dan bekerja di kawasan emas Jakarta sangat membutuhkan kualitas hidup sehat dan sejahtera, baik secara material maupun spiritual. Di tengah hiruk pikuknya Jakarta, kenyamanan dan kelengkapan fasilitas tinggal tentu menjadi penting demi kelangsungan hidup yang lebih baik.

Untuk itu, kata Martono, keberadaan Candra Naya diharapkan menjadi penyempurna superblok seluas 14.000 m2 terdiri dari dua tower apartemen dengan total 844 unit + penthouse, commercial area, skypark, dan tempat parkir luas.

"Tidak lain, kalau berada di jantung kota Jakarta seperti ini, konsepnya adalah memadukan kenyamanan bagi penghuni, juga investasi menguntungkan," ujar Martono.

Ia menambahkan, di kawasan sekitar GCC semua pemenuhan kebutuhan hidup dapat diperoleh, mulai kawasan hunian, bisnis, sosialisasi dan hiburan, dan istirahat bisa dengan mudah ditemui. Plus, lanjut dia, pesona sejarah dan budaya Candra Naya.

Sejarah Tionghoa

Ir Naniek Widayati, arsitek senior dan pemerhati Candra Naya dari Centre of Archticture Conservation mengatakan, pada abad ke-19, sekitar tahun 1800-an, Candra Naya merupakan ru­mah seorang mayor Tionghoa yang bertu­gas mengurusi kepentingan masyarakat Tionghoa di Batavia.

Naniek menambahkan, walau masih diragukan kapan tepatnya bangunan ini berdiri, sebuah lukisan yang pernah terpasang di dalamnya dapat dijadikan petunjuk karena terdapat kalimat dalam aksara Cina yang artinya kurang lebih: "Pada tahun kelinci di pertengahan bulan musim rontok dicatat kata-kata ini". Dari tulisan tersebut bisa diketahui, Candra Naya dibangun kira-kira pada ta­hun kelinci api yang jatuh 60 tahun sekali, yaitu antara 1807 atau kemungkinan 1867.

"Setara dengan masa dinasti Ming dan pengaruh dinasti Manchu," Naniek.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Pemerintah Harus Contoh Singapura

Posted: 23 Jun 2011 03:40 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com — Kesadaran para pengembang dan pebisnis konstruksi memilih berinvestasi pada bangunan hijau perlu dukungan pemerintah. Pemerintah diminta memberikan insentif pada bangunan-bangunan yang telah menerapkan konsep green building.

Di negara lain, seperti Singapura, misalnya, pemerintahnya memberikan insentif kepada pengembang yang telah menerapkan konsep bangunan hijau.

-- Dina Hartadi

"Di negara lain, seperti Singapura, misalnya, pemerintahnya memberikan insentif kepada pengembang yang telah menerapkan konsep bangunan hijau," kata Dina Hartadi dari Green Building Council Indonesia kepada wartawan seusai talkshow bertema "Creating Quality of Green and Healthy Living" yang diadakan  majalah Properti Indonesia dan Jotun Indonesia di Jakarta, Rabu (22/6/2011).

Dina mengatakan, gerakan hijau serta ramah lingkungan ini merupakan gerakan dunia. Karena itu, pemerintah diminta memberikan dukungan lebih besar bagi yang telah menerapkan konsep bangunan ramah lingkungan tersebut.

"Ini merupakan proses yang tengah berjalan, yaitu saat banyak industri mengklaim materialnya sebagai material hijau. Bahkan, ke depan bisa menjadi suatu keharusan mengingat bumi ini semakin renta. Caranya, mau tidak mau bangunan harus hijau," ujarnya.

Jika ada keluhan dari pengembang mengenai investasi mahal dengan menerapkan bangunan hijau, lanjut Dina, ada baiknya pengembang lebih jeli menyiasati dari unsur-unsur hijau yang bisa dikembangkan, tetapi tetap memiliki nilai bisnis.

"Ada beberapa kriteria penilaian untuk bangunan hijau, misalnya pemilihan material bangunan, pemanfaatan air, kualitas udara, dan sebagainya. Pengembang bisa ambil satu dua unsur kemudian dikembangkan," ujarnya.

Sementara itu, menurut CEO PT Intiland Development Tbk Sinarto Dharmawan, di satu sisi apabila pengembang terus mengharapkan insentif tanpa bergerak, konsep bangunan hijau ini hanya akan berkutat sebagai wacana.

"Kalau terus mengharapkan insentif, sesuatu yang baik ini tidak akan bergerak. Persyaratan hijau rasanya selalu terkesan mahal dan diterima menjadi beban. Kami pun menyiasati dengan mengembangkan satu unsur bangunan hijau, yaitu unsur kesehatan," jelasnya.

Unsur kesehatan, kata Sinarto, tetap bisa dijual. Pihaknya lantas membangun Graha Natura di Surabaya yang memiliki sistem pembuangan terpusat dengan septictank di luar perumahan. Di Graha Natura, limbah air dari rumah tangga juga dimanfaatkan dan diolah kembali.

"Namun, konsep yang baik ini tidak bisa berjalan baik jika pemerintah tidak turun tangan, serta berharap masyarakat mengerti dengan sendirinya. Pemerintah harus turun tangan memberi pendidikan dan sosialisasi kepada masyarakat, kalau tidak Indonesia akan jauh tertinggal dibanding negara lainnya," ucapnya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Ini Alasannya, Kenapa Lampu LED Perlu Anda Pertimbangkan!

Posted: 22 Jun 2011 09:05 AM PDT

KOMPAS.com - Selain estetika, pemakaian lampu berbasiskan LED (Light Emiting Diode) juga mampu menjawab kebutuhan hemat energi. LED mampu menghemat energi sampai 80 persen, apalagi usia pemakaiannya bisa sampai 25 tahun.

Artinya, menyatukan antara kebutuhan estetika dan hemat energi sudah bukan lagi masalah saat ini.

-- Hendry Syafrullah

Hendry Syafrullah, Senior Marketing Manager Philips Lighting mengatakan, LED juga tidak menggunakan bahan mengandung merkuri dan tidak panas sehingga aman bagi orang tua dan anak-anak.

"Artinya, menyatukan antara kebutuhan estetika dan hemat energi sudah bukan lagi masalah saat ini," kata Hendry pada temu media "See What Light Can Do" di sela pameran Indonesia Building Materials & Technology Expo di JCC, Jakarta, Rabu (22/6/2011).

Dari berbagai sudut pandang, lanjut Hendry, LED saat ini terbilang lebih unggul meskipun harganya lebih mahal. Dari sisi ekonomi, lampu jenis ini mampu menghemat listrik sampai 80 % sehingga sangat hemat uang untuk membayar. Sementara dari sisi lingkungan, LED jelas mengurangi radiasi seperti yang ditimbulkan oleh lampu Bohlam CFL biasa.

"Dan, tentu saja, dari sisi kesehatan dan kenyamanan, cahaya lampu LED ini tidak menimbulkan keperihan mata karena daya silaunya begitu rendah.

Keunggulan

Selain menerapkan teknologi terkini, LED juga punya beragam keunggulan dibandingkan penggunaan lampu Bohlam CFL biasa. Keunggulan itu terutama dalam hemat energi, ramah lingkungan, serta tidak silau (ramah mata). Meskipun belum tercatat angka pastinya, keunggulan-keunggulan ini kemungkinan akan semakin menggeser pemakaian lampu Bohlam CFL biasa. 

Dengan penggunaan bahan semikonduktor, LED tidak memasok energi begitu besar ketimbang Bohlam CFL biasa. Berbicara kualitas pencahayaan juga begitu, karena Daya 9 Watt lampu LED ini hampir setara daya 60 Watt lampu Bohlam CFL biasa. Walhasil, kocek tidak akan kebablasan ketika harus membayar listrik di kantor PLN. Di sisi lain, karena terbilang hemat energi, teknologi LED juga sudah mulai diaplikasikan dalam LCD (Liquid Crystal Display).

Dibandingkan lampu Bohlam CFL biasa, keunggulan lain LED adalah rendahnya radiasi yang kerap muncul saat posisi mata dan lampu terlalu dekat. Ini terjadi, karena LED berbahan semikonduktor. Dengan tingkat silau yang juga lebih rendah, mata menjadi tidak perih.

Nah, tunggu apa lagi?

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar