Jumat, 10 Juni 2011

Rumah Idaman “Paramount Lebarkan Sayap ke Jawa Tengah” plus 2 more

Rumah Idaman “Paramount Lebarkan Sayap ke Jawa Tengah” plus 2 more


Paramount Lebarkan Sayap ke Jawa Tengah

Posted: 11 Jun 2011 03:51 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah sukses mengembangkan bisnis properti di Serpong, kini Paramount mulai merambah ke provinsi lain, Jawa Tengah, tepatnya di kota Magelang.

"Sesuai rencana lima tahun Paramount, tahun 2011 ini juga kami segera memulai pembangunan hotel bintang empat di Magelang. Kami memang terlanjur jatuh cinta dengan kota yang bersih, tenang dan indah ini. Saat ini kami tengah memproses perijinan pada instansi yang berwenang dan kami bersyukur bahwa Magelang memiliki walikota yang sangat tanggap dan kreatif terhadap usaha2 memajukan dan memakmurkan kota ini. Adanya pembangunan hotel serta investasi lainnya tentu akan menciptakan lapangan kerja, meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dan pada akhirnya, meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah" kata Tanto Kurniawan, Presiden Direktur Paramount Land.

Magelang dikenal sebagai kota bersejarah di negara ini karena kedekatannya dengan Yogyakarta dan Semarang. Kota yang juga terkenal dengan getuk dan kupat tahunya memiliki Akademi Militer (AMN) yang mencetak pimpinan TNI Angkatan Darat. Lokasi AMN hanya 25 menit jaraknya dari Candi Borobudur, peninggalan sejarah kaliber dunia.

Hotel setinggi 10 lantai termasuk basement dan 154 kamar ini akan dilengkapi dengan ballroom berkapasitas 1.000 orang, meeting room, kolam renang, fitness, restaurant dan coffeshop. Total biaya yang akan digelontorkan Paramount sebesar Rp 90 miliar.

Pembangunan hotel ini akan dimulai akhir 2011 dan dijadwalkan selesai pada akhir 2012. Hotel ini akan dioperasikan oleh Aston International Indonesia dengan nama Aston Paramount Magelang Hotel & Conference.

Walikota Magelang, Ir. Sigit Widyonindito MT menyambut gembira rencana pembangunan hotel. "Ini merupakan bukti bahwa Magelang memiliki daya jual terhadap investor dan akan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat kota ini," kata Sigit.

Tanto Kurniawan juga menambahkan, setelah Magelang, Paramount segera akan merambah kota-kota lain di Indonesia seperti Surabaya, Malang, Cilegon disamping Jabodetabek.

"Kami akan menggenjot pembangunan hotel di seluruh Indonesia yang akan melengkapi misi perusahaan kami yakni menjadi pengembang yang disegani dan inovatif dimana pembangunan rumah dilengkapi dengan pembangunan highrise building dan pendapatan ruang sewa (recurring income) akan menjadi sangat penting bagi ketahanan perusahaan untuk jangka panjang" demikian Tanto Kurniawan.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Depok dan Tangerang, Satelit Pengurai Padatnya Jakarta

Posted: 10 Jun 2011 01:44 PM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com — Banyak kota satelit saat ini yang berbenah untuk ikut membantu mengurai terpusatnya kegiatan perekonomian berikut dampak kemacetan di ibu kota Jakarta. Dua kota satelit yang menunjukkan potensi tersebut adalah Tangerang dan Depok.

"Daerah barat, yaitu Tangerang, sudah sangat maju, sementara di daerah selatan ada Depok. Dua kota satelit ini dapat membantu mengurangi kepadatan Ibu Kota. Misalnya, sekarang ini sudah bisa dilihat, banyak yang tinggal di Tangerang dan memiliki kantor di sana," kata Executive Director Cushman and Wakefield Handa Sulaiman kepada wartawan di Jakarta, Jumat (10/6/2011).

Menurut dia, perkembangan dua kota satelit ini sudah tampak sejak 2-3 tahun terakhir. Penyebab berkembangnya Tangerang dan Depok karena kondisi infrastrukturnya yang mendukung.

"Setelah dibuat infrastruktur yang bagus, lalu ada jalan layangnya, juga jalan menuju area perumahan yang mendukung perkembangan kota-kota mandiri di kota satelit. Kota mandiri, contohnya di Tangerang, yang sudah maju dan lengkap, seperti Bumi Serpong Damai, Alam Sutera, Karawaci, juga Gading Serpong," ujarnya.

Handa mengatakan, saat ini perlu ditekankan pentingnya pembangunan infrastruktur untuk mengurai kepadatan di Jakarta.

"Kenapa dulu kantor-kantor di luar Jakarta tidak ada, karena infrastrukturnya belum jadi. Selain itu, pasarnya juga belum solid," ujarnya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Tenang... Indonesia Masih Aman dari "Bubble"!

Posted: 10 Jun 2011 01:00 PM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah China terkena hantaman bubble, ketika harga-harga properti naik dan kian tak mampu diikuti oleh daya beli, Vietnam saat ini tengah menunggu waktu mengalami hal serupa. Vietnam mengalami bubble karena kebanyakan pinjaman dan inflasinya tinggi.

Demikian disampaikan President and Chief Executive Officer of Cushman and Wakefield Inc Glenn J Rufrano dalam konferensi pers dengan wartawan di Jakarta, Jumat (10/6/2011).

"Pinjaman yang diberikan berlebihan, terjadi likuiditas pada sektor tertentu juga," kata Glenn.

Handa Sulaiman, Executive Director Cushman and Wakefield Indonesia, menambahkan, kondisi bubble di Vietnam saat ini memang sudah terjadi, tetapi belum sampai pada puncaknya.

"Lima sampai sepuluh tahun lalu orang masih negatif dengan Indonesia, dan Vietnam dianggap lebih baik dari kita. Tapi, kini mereka tengah mengalami bubble, tinggal menunggu saja kapan meledaknya," ujar Handa.

Lalu, apakah pasar properti Indonesia juga akan mengalaminya?

Handa mengatakan, hal itu tidak akan terjadi saat ini. Pasalnya, pertumbuhan pasar properti di Indonesia tumbuh perlahan, tetapi pasti.

"Tidak akan bubble karena pinjaman untuk properti di Indonesia masih sedikit, apalagi dari perbankan itu masih terbatas. Meski investasi lima sampai sepuluh tahun lalu, tetap akan ada untungnya," ujarnya.

Ia menambahkan, ada tiga penyebab lambatnya pertumbuhan pasar properti di Indonesia. Pertama, terbatasnya pinjaman; kedua, regulasi yang mengatur kepemilikan properti oleh asing; dan ketiga adalah karena lambatnya pembangunan infrastruktur.

"Infrastruktur sangat penting peranannya bagi perkembangan properti di Indonesia. Tidak ada alternatif lain untuk mengembangkan properti selain memperbaiki infrastruktur," katanya.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar