Jumat, 17 Juni 2011

Rumah Idaman “Pakai Ketimun, Kecoak Lari....” plus 2 more

Rumah Idaman “Pakai Ketimun, Kecoak Lari....” plus 2 more


Pakai Ketimun, Kecoak Lari....

Posted: 17 Jun 2011 01:03 PM PDT

KOMPAS.com - Cara paling sering dilakukan untuk mengusir kecoak adalah dengan menggunakan cairan pengusir serangga. Namun, kandungan zat kimia dalam cairan tersebut seringkali pula tidak cocok dengan bagian-bagian tubuh manusia.

Bagi beberapa orang yang sensitif dengan cairan mengandung bahan kimia ini, dapat beralih dengan cara-cara alamiah, seperti:

Pakai timun atau lemon

Ambil timun atau melon dan potong menjadi bagian-bagian kecil lalu letakkan di tempat-tempat yang sering dilalui kecoak.

Ambil daun salam

Letakkan beberapa lembar daun salam yang biasa dilalui serangga ini.

Biji bunga lavender

Ambil segenggam biji dan letakkan dalam wadah kecil. Letakkan wadah berisi biji-biji tersebut di beberapa tempat, misalnya kamar mandi atau dapur. Aroma wangi lavender sangat tidak disukai kecoak.

Kapur barus

Aroma kapur barus pun tak ubahnya biji bunga lavender. Bau kapur barus sangat tidak disukai kecoak sehingga cocok diletakkan di tempat-tempat yang biasa dilalui serangga ini.

Namun, meskipun cara-cara mengusir kecoa ini sudah Anda terapkan, kecoak masih berkeliaran di lingkungan tempat tinggal Anda. Untuk itu, sempatkan waktu membersihkan saluran air atau selokan yang mampet di depan rumah. Tempat lembab dan kotor seperti ini adalah hunian favorit kecoak.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Jawa Barat Masih Keteteran Penuhi Target

Posted: 17 Jun 2011 10:53 AM PDT

BANDUNG, KOMPAS.com — Pemenuhan kebutuhan perumahan baru di Provinsi Jawa Barat hanya mencapai 12 persen dari total kebutuhan rumah baru di provinsi itu dalam setahun. Kebutuhan rumah di Jabar mencapai 2,9 juta unit, tetapi baru bisa bisa terpenuhi sekitar 350.000 unit.

"Artinya, hanya 12 persen dari total kebutuhan," kata Gubernur Jawa Barat (Jabar) H Ahmad Heryawan saat membuka Musda IX Real Estate Indonesia (REI) Jabar di Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (17/6/2011).

Menurut Heryawan, kekurangan rumah (backlog) di Jabar sangat tinggi sehingga membutuhkan peran serta semua pihak untuk mendorong program pembangunan rumah baru. Kebutuhan perumahan baru terus meningkat menyusul bertambahnya jumlah pasangan perkawinan baru dalam setiap tahunnya.

"Masalah perumahan di Jabar merupakan problema sangat serius, terutama di daerah kota. Bersama pemerintah pusat, Jabar mendorong agar pemenuhan perumahan bisa teratasi," kata Heryawan.

Ia mengakui banyaknya hambatan bagi pembangunan perumahan baru. Selain harga lahan atau tanah yang mahal, regulasi pun masih belum sejalan dengan keinginan pengembang perumahan. Selain itu, skema kredit kepemilikan rumah masih harus terus diperbarui agar bisa dijangkau oleh masyarakat, khususnya pasar menengah ke bawah di samping mekanisme subsidi bunga dan uang muka kredit pemilikan rumah.

"Sinergi pemerintah dengan pengembang terus dilakukan dan sejauh ini berjalan dengan baik meski masih ada beberapa hambatan. Namun, semua itu diupayakan bisa diatasi," kata Heryawan.

Pada kesempatan itu, Gubernur Jabar menyebutkan pihaknya terus menggenjot pembangunan perumahan baru, baik horizontal maupun vertikal, untuk memenuhi kebutuhan perumahan murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

"Pembangunan tower untuk rusunami dan rusunawa terus dioptimalkan, khususnya untuk mengatasi kekurangan dan kesulitan lahan perumahan di perkotaan. Semangat pembangunan tower itu sudah terlihat dengan berdiri di sejumlah kota padat penduduk," ujarnya.

Ia mengatakan, REI sebagai salah satu stakeholder pemenuhan kebutuhan perumahan bisa memberikan solusi melalui terobosan-terobosan programnya dalam pemenuhan perumahan.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Melemahkan Parasit dalam Ruang Ber-AC

Posted: 17 Jun 2011 10:01 AM PDT

KOMPAS.com - Ruangan sejuk ber-AC, meskipun tampak bersih, belum tentu sehat bagi tubuh kita. AC (air conditioning) yang dipasang di ruangan kantor atau rumah kita, menuntut agar ruangan selalu tertutup. Akibatnya, tidak terjadi sirkulasi udara yang baik dalam ruangan.

Tanpa sirkulasi udara, tentu rumah bisa menjadi lahan yang cocok bagi bakteri untuk berkembang biak. Oleh sebab itu, bila dalam sebuah ruangan ber-AC terdapat orang yang terserang flu misalnya, orang lain yang menghirup udara di tempat sama amat berpotensi tertular atau terserang penyakit tersebut. Jadi, sebenarnya tinggal dalam tempo yang lama dalam ruangan tertutup clan ber-AC kurang baik bagi kesehatan kita.

Orang-orang yang membutuhkan kesegaran alami sering mengusahakannya dengan pergi ke daerah-daerah sejuk, seperti pegunungan, pedesaan, atau daerah berair terjun. Di tempat seperti itu, keseimbangan ion negatif dan positif masih stabil sehingga membuat orang merasa nyaman dan mendukung kesehatannya.

Namun, bagi pekerja yang aktif di perkantoran tentu tak bisa setiap hari pergi ke pegunungan. Mau tak mau kita tetap membutuhkan AC. Itulah sebabnya, produsen-produsen elektronik mencoba "merapatkan" lingkungan pegunungan dengan tempat kita beraktivitas untuk mengusahakan kondisi ruangan ber-AC tetap sehat.

Pada tahun 2000 lalu, produsen elektronik dunia, Sharp, mengernbangkan teknologi plasmacluster dalam produk AC. Inti dari teknologi ini adalah menyeimbangkan ion negatif dan positif di lingkungan perkotaan agar sama dengan lingkungan pegunungan. Sejumlah penelitian menyebutkan, untuk menciptakan udara ruangan yang sehat dan bersih, dibutuhkan teknologi yang mampu menyemburkan ion positif dan negatif secara seimbang dan dalam jumlah yang amat banyak.

Kumpulan ion dalam jumlah besar tersebut harus mengandung ion hidrogen positif dan ion oksigen negatif. Ion-ion ini kemudian disemprotkan kembali ke udara yang kemudian bereaksi untuk menonaktifkan parasit mikroskopik, seperti bakteri, jamur dan spora jamur, virus, dan penyebab alergi (kutu atau debu). Plasmacluster akan bekerja dengan cara menyerap unsur protein dari parasit-parasit tadi.

Namun demikian, plasmacluster hanya bekerja pada parasit di udara, bukan bakteri yang ada di dalam air atau tanah. Teknologi ini juga dapat menghilangkan bau. (TYS)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar