Kamis, 16 Juni 2011

Rumah Idaman “Jangan Lupa, Beda Rumah itu Beda "Hawa"!” plus 2 more

Rumah Idaman “Jangan Lupa, Beda Rumah itu Beda "Hawa"!” plus 2 more


Jangan Lupa, Beda Rumah itu Beda "Hawa"!

Posted: 17 Jun 2011 04:51 AM PDT

KOMPAS.com - Pernahkah Anda merasakan beda "hawa" antara rumah satu dengan yang lain? Nah, hal ini ternyata dipengaruhi beberapa hal yang terkadang luput diperhatikan.

Sebagai salah satu tempat utama bersantai, beristirahat, dan bercengkerama dengan keluarga, aroma rumah sebaiknya senantiasa wangi dan menenangkan. Apabila kondisi rumah lembab dan berbau tidak enak, dijamin keluarga Anda tidak betah berlama-lama menghabiskan waktu bersama. Oleh karena itu, agar ruangan selalu segar sekaligus sehat, perhatikan jurus-jurus berikut ini;

Kondisi ventilasi udara

Anda harus selalu memastikan, bahwa jendela di rumah terbuka setiap pagi minimal 20 menit. Hal tersebut memungkinkan udara segar masuk ke dalam rumah menggantikan udara kotor.

Sampah

Segera buang sampah di dalam rumah, terutama sampah sisa makanan dan sampah berbau menyengat lainnya. Jika tempat sampah masih menyebarkan aroma tidak sedap, ambil dan sebarkan secara merata abu gosok ke dalamnya.

Pewangi alami

Sekarang ini banyak tersedia pewangi rumah, tetapi kebanyakan tidak alami. Padahal, alam ini menyediakan berbagai sumber wangi yang murah dan mudah didapatkan. Pertama, tanam berbagai macam bunga yang menimbulkan wewangian di halaman rumah. Contohnya, bunga mawar, melati, kaca piring, kemuning, kenanga, dan sedap malam.

Usahakan menanam bunga di dekat pintu atau jendela agar aroma wanginya bisa masuk ke dalam rumah. Saat bunga-bunga itu bermekaran pada musimnya, Anda sekeluarga akan menghirup wewangian istimewa pemberian alam.

Anda juga bisa memetik beberapa helai bunga untuk ditaruh di dalam rumah.

Kedua, manfaatkan bumbu dapur yang tersedia di lemari penyimpanan Anda. Ada berbagai macam cara menggunakan bumbu tersebut yang bisa Anda dapatkan melalui berbagai media dan internet. (INO)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Kalau Harga Tanah Gila-gilaan, Siapa Mau Beli?

Posted: 17 Jun 2011 04:26 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Kenaikan harga tertinggi properti belakangan ini terjadi pada properti komersial, sementara untuk hunian atau perumahan, terjadi kenaikan harga sekitar 15%. Kondisi ini dimanfaatkan pengembang dengan meluncurkan produk-produk baru.

Seperti yang terjadi di Vietnam, karena harga tanah gila-gilaan, tidak ada yang mau beli.

-- Anton Sitorus

Olivia Surodjo, Sekretaris Perusahana PT Metropolitan Land Tbk (Metland), membenarkan harga rumah yang mereka kembangkan naik 30%. Perumahan Metland di Cileungsi, misalnya, dilego seharga Rp 80 juta hingga Rp 200 juta per unit.

"Padahal, awal tahun masih ada yang Rp 60 juta per unit," ujarnya.

Kenaikan harga tersebut, papar Olivia, didorong oleh kenaikan harga tanah. Di kawasan tersebut, harga tanah segmen menengah ke bawah non-subsidi dibanderol sekitar Rp 900.000 per meter persegi (m²). Sedangkan untuk tanah bersubsidi dijual seharga Rp 600.000 per m².

Sebelumnya, Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Setyo Maharso mengatakan, peningkatan harga properti ini terutama karena perekonomian membaik. Para pengembang kini bisa senyum sumringah dengan pertumbuhan ekonomi yang membuat permintaan properti saat ini membludak karena harga properti naik sekitar 30% sepanjang Januari hingga Mei tahun ini.

"Daya beli bagus. Sebagai gambaran, orang yang sebelumnya mampu Rp 50 juta akan mencari yang Rp 100 juta," kata Setyo di Jakarta, Kamis (16/6/2011) kemarin.

Siapa mau beli?

Sementara itu, kenaikan harga tanah juga terjadi di kelas menengah non-kluster. Bila di awal tahun tanah di lokasi ini dijual seharga Rp 1,7 juta per m², kini harganya sudah melesat 17,6% menjadi Rp 2 juta per m².

"Kenaikan harga ini juga terjadi di Ujung Menteng, Cakung," lanjut Olivia.

Pada awal tahun ini, rumah di kawasan tersebut dijual seharga Rp 480 juta per unit. Kini, harga rumah tersebut sudah lebih mahal 25% menjadi Rp 600 juta, bahkan ada yang sampai Rp 1,2 miliar per unit.

Dus, sepanjang Januari-Mei 2011, Metland sudah berhasil menghimpun penjualan sekitar Rp 209,8 miliar. Pencapaian ini melesat 79% dibandingkan penjualannya di periode sama tahun lalu yang senilai Rp 117,2 miliar.

Senada penuturan Olivia, Johannes Mardjuki, Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk, mengatakan, harga properti yang mereka kembangkan naik 20%-25%. Harga rumah di Kelapa Gading naik dari Rp 1,7 miliar menjadi Rp 2 miliar per unit. Sementara rumah di Serpong saat ini dijual seharga Rp 700 juta-Rp 1,5 miliar per unit. Adapun rumah di Bekasi dibanderol seharga Rp 600 juta-Rp 1 miliar per unit.

"Melihat kondisi ini, kami mengatur supaya pasokan tidak terlalu membeludak," kata Johannes.

Namun, meskipun pengembang senang, Anton Sitorus, Kepala Riset Jones Lang LaSalle, punya pandangan berbeda. Menurutnya, kenaikan harga properti yang terus-menerus tidak bagus untuk jangka panjang.

"Seperti yang terjadi di Vietnam, karena harga tanah gila-gilaan, tidak ada yang mau beli," tutur Anton. (Maria Rosita)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Waaah.... Pengembang Properti Bisa Senyum Sumringah!

Posted: 17 Jun 2011 03:43 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com - Para pengembang properti sedang sumringah. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi membuat permintaan properti ikut membludak. Alhasil, harga properti pun naik sekitar 30% sepanjang Januari hingga Mei tahun ini.

Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Setyo Maharso mengatakan, peningkatan harga properti ini terutama karena perekonomian membaik.

"Daya beli bagus. Sebagai gambaran, orang yang sebelumnya mampu Rp 50 juta akan mencari yang Rp 100 juta," kata Setyo, Kamis (16/6/2011).

Menurut dia, kenaikan harga tertinggi terjadi pada properti komersial. Sementara untuk hunian atau perumahan, terjadi kenaikan harga sekitar 15%. Para pengembang pun memanfaatkan kondisi ini dengan meluncurkan produk-produk baru.

Olivia Surodjo, Sekretaris Perusahana PT Metropolitan Land Tbk (Metland), membenarkan harga rumah yang mereka kembangkan naik 30%. Perumahan Metland di Cileungsi, misalnya, dilego seharga Rp 80 juta hingga Rp 200 juta per unit.

"Padahal, awal tahun masih ada yang Rp 60 juta per unit," ujarnya.

Kenaikan harga tersebut, papar Olivia, didorong oleh kenaikan harga tanah. Di kawasan tersebut, harga tanah segmen menengah ke bawah non-subsidi dibanderol sekitar Rp 900.000 per meter persegi (m²). Sedangkan untuk tanah bersubsidi dijual seharga Rp 600.000 per m². (Maria Rosita)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar