Senin, 27 Juni 2011

Rumah Idaman “Biarkan Anak Punya "Daerah Kekuasaan" Sendiri” plus 1 more

Rumah Idaman “Biarkan Anak Punya "Daerah Kekuasaan" Sendiri” plus 1 more


Biarkan Anak Punya "Daerah Kekuasaan" Sendiri

Posted: 28 Jun 2011 04:04 AM PDT

KOMPAS.com - Kamar tidur menjadi ruang pribadi bagi pemiliknya, tak terkecuali di mata anak-anak. Bagi mereka, setelah tidur terpisah dari orang tuanya, kamar tidur seolah menjadi "daerah kekuasaannya".

Jangan dulu "daerah kekuasaan" itu selalu diartikan buruk, karena anak-anak akan selalu bisa diarahkan pada hal-hal positif melalui kamarnya sendiri. Sebutlah misalnya, anak bisa menjaga dan menghargai ruang pribadi dan barang-barang di dalamnya sehingga mereka juga akan belajar menghargai ruang pribadi orang lain sejak dini.

Kamar anak tentu cukup penting peranannya sebagai saksi tumbuh kembangnya mereka. Karena saat masih kecil, sebagian waktu anak akan dihabiskan di dalam kamar, seperti kegiatan bermain, belajar, dan beristirahat atau tidur. Saat beranjak remaja dan dewasa, kamar menjadi ruang penting bagi anak sebagai ruang pribadinya.

Karena banyak waktu dihabiskan di dalam kamar, sebaiknya kamar anak mempertimbangkan faktor kenyamanan. Kenyamanan bisa diterjemahkan dengan arti menyenangkan bagi anak atau sebagai ruang untuk menghabiskan waktu di dalamnya, dan ruang yang bisa mencerminkan dirinya sehingga merasa betah berlama-lama di dalamnya.

Betah

Lalu, bagaimana agar anak-anak bisa betah di dalam kamarnya sendiri? Salah satu cara bisa dilakukan adalah dengan mewujudkan hal-hal yang mencerminkan dirinya lewat hobi, warna kesukaan, atau desain yang tepat. Misalnya, untuk anak laki-laki yang menyukai konsep film atau tokoh kartun kesukaan mereka, bisa diambil tema tentang superhero, robot, mobil, atau pesawat terbang. Sementara, anak perempuan lebih suka dengan konsep tokoh kartun putri dongeng seperti Cinderella, Putri Duyung, Barbie, dan lainnya.

Anda pun bisa menerjemahkan hobi anak ke dalam dekorasi kamar tidurnya. Misalnya, si anak suka olahraga basket, Anda bisa memilih aksesoris seperti bedcover dengan desain bola basket. Hobi sepak bola juga bisa diaplikasikan lewat aksesoris karpet berlambang tim kesayangannya atau selimut berlogo tim sepakbola kesukaan mereka.

Cara lainnya, Anda atau isteri bisa memberi sentuhan warna ceria pada dinding kamar anak. Biasanya, anak laki-laki suka dengan warna biru atau kuning, sedangkan anak perempuan lebih menyukai warna pink, merah, hijau muda, dan ungu.

Dinding yang berwarna memang tidak selalu mutlak memberi kesan tersendiri pada anak. Namun, yang terpenting adalah bagaimana caranya warna bisa membebaskan imajinasi kreatif si anak sehingga nyaman berada di kamarnya.

Kemudian, pilihan furnitur untuk kamar anak sebaiknya juga memilih yang sesuai dengan tema kamar, terlebih dengan mempertimbangkan kebutuhan mereka. Pemakaian furnitur bisa selaras dengan warna dinding atau digunakan teknik padu padan warna sehingga menghasilkan warna-warni menarik.

Karena banyaknya barang anak, seperti baju dan mainan, Anda bisa menempatkan furnitur dengan banyak laci sebagai tempat penyimpanannya. Agar betah di dalam kamarnya, yang tak kalah penting adalah, melibatkan buah hati dalam menata kamar tidurnya.

Terakhir, jangan memaksakan ide-ide Anda kalau anak tidak menyukainya. Hal itu hanya akan membuat anak justeru tidak kerasan dan akhirnya enggan belajar mandiri di kamar tidurnya sendiri. Anak seolah tak punya "daerah kekuasaannya" lagi.

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

"Laser Cut", Membuat Detail Hias Furnitur Semakin Cantik

Posted: 28 Jun 2011 03:23 AM PDT

KOMPAS.com - Kemajuan bidang interior saat ini terus didukung oleh kemajuan teknologi, salah satunya adalah penggunaan laser untuk memotong material untuk produk-produk furnitur. Dengan teknologi yang akrab disebut dengan laser cut ini, bahan apapun dapat dipotong dan dihias dengan detail yang tak biasa dilakukan secara manual.

Humas PT Aman Tirta Nina F Panuju mengatakan, teknologi laser cut memang telah banyak dikembangkan di Indonesia. Pada produk interior, kecepatannya memotong material keras ataupun tipis, beserta detail-detail yang unik menjadi kelebihan teknologi ini.

"Kalau di tempat kami, tiga bahan yang paling sering digunakan yaitu dari stainless steel, alumunium dan baja. Dari ketiga bahan ini, tingkat kesulitan paling tinggi adalah bahan alumunium, terutama karena ketipisannya, sementara laser yang digunakan memiliki daya panas tinggi sehingga dikhawatirkan akan meleleh," katanya saat ditemui di pameran Indonesia Building Technology Expo 2011 di Jakarta Convention Center, Jumat (24/6/2011).

Nina mengatakan, pihaknya bisa menerima pesanan apa saja, dengan bahan apa saja berikut warna dan desainnya.

"Bedanya dengan yang lain, kami satu-satunya yang melakukan laser dengan bentuk pipa. Bentuk pipa yang melingkar memiliki tingkat kesulitan dan ketelitian lebih tinggi," ujarnya.

Teknologi ini juga memberikan efesiensi waktu yang signfikan. Pembuatan furnitur seperti meja, kursi, jam dinding, pigura, bahkan sekat dapat dilayani dalam jangka waktu seminggu.

Nina menambahkan, untuk pemesanan sampai pengerjaan sebetulnya cukup cepat. Yang membuat agak lama adalah bagian penyempurnaan, misalnya dengan penambahan coating powder atau pengecatan.

Furnitur dengan laser cut ini memiliki detail ukiran atau lekukan keindahan yang menawan. Dipadu dengan lampu atau aksesoris lainnya, detail interior akan menghasilkan furnitur yang menawan.

Selain memiliki nilai artistik, lanjut Nina, furnitur dengan teknologi laser juga aman dari jangkauan anak-anak karena pada bagian penyempurnaan dibuat tidak runcing atau tajam. Perawatannya juga cukup mudah.

Caranya, ambil lap basah untuk mengusir debu atau kotoran yang kerap menempel. Sebaiknya, tempatkan furnitur seperti ini di dalam ruangan, agar lebih tahan lama dan tidak terkena karat karena cuaca.

Selamat mencoba!

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers. Five Filters featured article: Ten Years Of Media Lens - Our Problem With Mainstream Dissidents.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar