Minggu, 21 Maret 2010

Rumah Idaman “Amaris Hotel Hadir di Bandara Internasional Soekarno-Hatta” plus 3 more

Rumah Idaman “Amaris Hotel Hadir di Bandara Internasional Soekarno-Hatta” plus 3 more


Amaris Hotel Hadir di Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Posted: 21 Mar 2010 01:20 PM PDT

Minggu, 21/3/2010 | 20:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -  Grup Santika menghadirkan kembali Amaris Hotel. Kali ini Amaris hadir di kawasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ini merupakan hotel ke-21 dari Grup Hotel Santika dan hotel keempat yang membawa brand Amaris.

Tiga hotel dengan brand Amaris yang sudah beroperasi adalah Amaris Hotel Panglima Polim Jakarta, Amaris Banjar (Kalimantan Selatan), dan Amaris Hotel Ambon.

Amaris Hotel yang dimiliki PT Graha Multi Utama dan dikelola PT Grahawita Santika ini resmi beroperasi Sabtu 20 Maret 2010.  Hotel ini berlokasi di Jln Husein Sastranegara No 1 Benda, Tangerang, Banten.  Bandara Internasional Soekarno-Hatta dapat dicapai hanya dalam waktu lima menit dari hotel ini sehingga menjadikan Amaris Hotel Bandara sangat strategis.

Acara pembukaan ditandai dengan pengguntingan pita oleh Jakob Oetama (Chairman Kompas Gramedia) yang didampingi Agung Adiprasetyo (CEO Kompas Gramedia), Lilik Oetama (Direktur Eksekutif PT Grahawita Santika), August Parengkuan (Direktur PT Grahawita Santika), Andy Widjanarko (Direktur Utama PT Graha Multi Utama) H Sayuti dan Danny Budiharto (Direktur PT Graha Multi Utama).

Sebelum pengguntingan pita, dilakukan pemotongan tumpeng dari H Sayuti yang diberikan ke Lilik Oetama yang seterusnya diberikan kepada Ricky Rimbawan, Hotel Manager. 

CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo dalam sambutannya mengatakankan,  Amaris Hotel merupakan konsep baru dalam dunia perhotelan. "Amaris menerapkan konsep smart hotel, yang menyediakan bed and breakfast untuk kenyamanan tamu," kata Agung.

Bed secara khusus dibuat oleh King Koil sehingga tamu yang memang membutuhkan tidur nyenyak akan merasa nyaman, sedangkan makan pagi disediakan dengan berbagai pilihan menu. Kebutuhan dasar tamu yang disediakan di Amaris Hotel, disiapkan sebaik mungkin.

Amaris Hotel Bandara Soekarno-Hatta yang memiliki motto "The Perfect Choice For Dynamic Traveler" ini memiliki 118 kamar,  terdiri dari 50 twin bed room dan 68 double bed room. Semua kamar disebut dengan Smart Room.

Hotel ini dilengkapi fasilitas LCD TV di setiap kamar, in room safe , @Xpress, dan wifi. Letaknya yang bersebelahan dengan Restoran Roda Pedati, menjadikan Amaris Hotel pilihan yang tepat bagi para pebisnis yang membutuhkan akomodasi di sekitar Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Hotel ini juga memudahkan akses bagi para pelaku bisnis yang sering bepergian ke kota lain.

"Harga promosi Rp 405.000 nett sudah termasuk makan pagi untuk 2 orang, berlaku sampai tanggal 30 April 2010," kata Vivi Herlembang, Corporate Promotion Manager Hotel Santika and Resorts, Minggu (21/3/10). 

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Semangat Keterbukaan di Rumah Yudi Latif

Posted: 21 Mar 2010 09:45 AM PDT

Minggu, 21/3/2010 | 16:45 WIB

oleh Ilham Khori 

Rumah mencerminkan pemiliknya. Mungkin itu pepatah lama, tetapi bertemu dalam diri Yudi Latif (45). Rumah intelektual Muslim yang dikenal memiliki gagasan lintas-batas ini penuh semangat keterbukaan, melegakan, dan nyaris tanpa sekat.

Butuh sedikit kegigihan untuk menemukan rumah Yudi Latif. Saat janjian lewat telepon seluler, dia kirim pesan, "Kompleks Depkes, Jalan H Umaidi, Rawa Bambu, Pasar Minggu, Jakarta Selatan." Namun, begitu tiba di perumahan tersebut, ternyata rumah dimaksud berada luar kompleks.

Rumah Yudi agak tersembunyi, tepat di pojokan tikungan jalan kecil. Jalan ini pun harus ditemukan setelah menyelinap keluar lewat samping kiri-belakang kompleks. Lahan rumah Yudi berbentuk mirip kantung, yakni agak sempit di bagian depan, tetapi meluas di bagian belakang.

Begitu masuk pekarangan, segera terasa keteduhan yang dalam. Halaman depan dan samping kiri rumah dinaungi tanaman bunga dan pohon buah seperti mangga, srikaya, dan pohon tinggi runcing mirip cemara. Hiruk-pikuk kemacetan di Jalan Raya Pasar Minggu, yang berjarak 500-an meter, tak terdengar lagi. Mungkin diredam tetumbuhan.

"Di sini kami menemukan suasana istirahat yang berjarak dari kegaduhan, tapi juga punya akses menuju pusat kota," kata pemikir kenegaraan dan keagamaan itu.

Lelaki ramah itu menyambut kami dengan santai, Rabu (17/3) itu. Kami berbincang ditemani Linda Natalia Rahma (42), istri Yudi. Ada juga anaknya yang lucu, Binar Aqlia (3), dan kakaknya, Bening Aura Qalby (7). Dua anak lelaki Yudi sedang sekolah di Amerika.

Rumah seluas 300-an meter persegi itu berada di atas lahan sekitar 436 meter persegi. Rumah itu dibeli dalam keadaan "jadi" tahun 2005. Bangunan yang ada tak banyak diubah karena dianggap cukup cocok dengan kebutuhan keluarga ini.

Terbuka
Suasana terbuka pertama-tama mengental pada ruang tamu yang sekaligus jadi ruang keluarga. Ruang seluas 100-an meter persegi itu dibiarkan tergelar tanpa sekat.

Satu set meja dan kursi tamu diletakkan di bagian depan ruang. Bagian tengah diberi sofa. Dinding kiri ditempeli beberapa lukisan dan kliping koran.

Beberapa rak putih berjejer menempel pada dinding bagian kanan tengah sampai belakang. Rak-rak itu penuh buku dengan beragam judul. "Buku-buku ini tidak ditata berdasar tema, tapi saya ingat letaknya," kata doktor bidang sosial-politik lulusan Australian National University, Australia, itu.

Ruangan ini terasa makin lega karena plafon dibuat rata, tanpa ornamen. Dari sini langsung bisa diakses ruang makan dan mushala di bagian belakang. Hanya ada bufet kaca sebagai pemisah antara ruang tamu dan ruang makan.

Saat baru dibeli dulu, cerita Yudi, ada dua tiang di ruang tamu itu. Plafonnya juga dihiasi ornamen. Ada juga sedikit penyekat ruangan bagian tengah. Semua itu kemudian dihilangkam saat renovasi.

"Ruang ini sering dipakai untuk pengajian, kumpul keluarga, dan diskusi," kata Yudi, yang menjadi Kepala Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia (PSIK).

Suasana terbuka juga terasa di dapur yang terletak di samping kiri bangunan. Dapur itu cukup longgar dan menyambung dengan ruang makan. Yang menarik, atap dua ruang itu dibuat dari polikarbonat transparan sehingga sinar matahari siang leluasa masuk menerangi rumah.

Privat
Meski cenderung terbuka, rumah itu juga punya ruang-ruang privat. Ada enam kamar di dalam bangunan itu. Tiga di antaranya merupakan kamar utama untuk Yudi bersama istri dan anak-anaknya.

Salah satu ruang anak, yang berada di samping kiri ruang tamu, juga dimanfaatkan menjadi ruang kerja. Sebuah dipan dengan jeruji tinggi untuk tidur si kecil diletakkan di tengah. Di sampingnya, ada satu set meja-kursi dan komputer.

"Saya nyaman menulis di sini, terutama setelah bangun tidur. Kalau sudah menulis, biasanya saya suka menyendiri tanpa diganggu sampai menyelesaikan satu pokok pikiran," papar pemikir sosial keagamaan dan kenegaraan yang telah menerbitkan 10-an buku itu.

Begitulah, rumah itu memberikan keseimbangan antara keterbukaan dan privasi. Keterbukaan terletak pada tata ruang yang cenderung minim sekat. Privasi terasa pada kamar-kamar yang nyaman untuk istirahat.

Keseimbangan semacam itu rupanya membuat Yudi betah tinggal di rumah. Atmosfer inilah yang menjaga mood-nya untuk mengolah dan menuliskan gagasan-gagasannya yang bernas dan jernih. Tentu saja, terbuka, dan melintas batas.

Penuh Rasa Syukur

Setiap jengkal rumah ini penuh rasa syukur dan terima kasih," kata Yudi Latif. Maksudnya, rumah itu diperoleh berkat limpahan rezeki dari Allah dan bantuan taman-temannya.

Yudi bercerita, sepulang studi dari Australian National University, Australia, tahun 2004, dia dan keluarga ngekost di kawasan Jatibening, Bekasi. Lokasi tinggal itu membuat dia kerepotan saat harus menghadiri acara-acara pagi hari di pusat kota Jakarta. Dia berusaha mencari rumah yang tak terlalu jauh dari kota, tetapi harganya terjangkau.

Kebetulan, dia dapat kabar, ada seorang polisi yang jual rumah. Rumah itu sulit laku karena posisinya berada di belakang kompleks Depkes di Pasar Minggu dan akses jalannya kecil. Harga jualnya cukup murah dibandingkan harga rumah dalam kompleks.

"Memang akses jalan agak susah karena kecil dan menyelinap di belakang kompleks. Tapi, rumah itu cukup tersembunyi, sepi, dan enak untuk istirahat. Akses menuju pusat kota dan ke Jalan Tol TB Simatupang juga mudah," kata Yudi.

Suasana itu dibutuhkan Yudi yang waktunya banyak dihabiskan di ruang publik yang gaduh. Rumah itu memberinya jarak dari keriuhan.

Kebetulan, istrinya, Linda Natalia Rahma, juga menyukainya. Katanya, "Suasana di sini tenang dan masih banyak pepohonan. Airnya bening."

Tahun 2005, pasangan itu membeli rumah yang mereka tempati sekarang. Sebagian dana pembelian dibantu sejumlah teman. Karena itulah, Yudi menyebut, setiap jengkal rumah itu dipenuhi syukur dan terima kasih.

Keluarga itu kini semakin kerasan tinggal di kampung Betawi. Berada di tengah masyarakat membuat mereka lebih dekat dengan problematik sehari-hari. Dia kerap menghadiri hajatan. Istrinya rajin ikut pengajian bersama ibu-ibu setempat.

"Kami terlibat dengan berbagai urusan masyarakat, mulai dari membantu menyekolahkan anak, bayar SPP, sampai mencarikan kerja," kata Yudi.

Lingkungan itu juga terus menjaga kesadaran sosialnya. "Di luar, saya bertemu banyak orang, termasuk para pengusaha kaya. Ketika kembali ke rumah, saya masih merasa jauh lebih beruntung karena ada banyak orang-orang di sekitar yang kekurangan." Itu juga yang membuat Yudi tak putus mengucap rasa syukur. (Sumber: KOMPAS Minggu)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

60.000 Ekspatriat Akan Beli Properti di Indonesia

Posted: 20 Mar 2010 02:26 PM PDT

Sabtu, 20/3/2010 | 21:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa menyatakan, minat warga negara asing (WNA) untuk membeli properti di Indonesia sangat tinggi. Adanya investasi properti oleh WNA diharapkan dapat meningkatkan pendapatan negara serta menambah devisa.

"Minat WNA untuk membeli properti di Indonesia sangat tinggi. Hal itu tentunya dapat memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap pendapatan pemerintah," kata Menpera saat jumpa pers bersama para wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Perumahan Rakyat (Forwapera) di Jakarta.

Menpera menjelaskan, berdasarkan perhitungan yang dilakukan Kemenpera, pendapatan yang dapat diperoleh negara dari investasi langsung pembelian properti oleh WNA di Indonesia bisa mencapai sekitar dua hingga tiga miliar dollar AS. Harga properti di Indonesia saat ini terbilang cukup murah dibanding dengan properti yang ada di negara tetangga. Oleh karena itu, banyak WNA yang tertarik membeli properti di Indonesia.

"Sekitar 60.000 ekspatriat yang ada di Indonesia bahkan sudah bersedia membeli properti di Indonesia," terang Menpera.

Salah satu persoalan yang muncul terkait hal ini, kata Menpera, adalah bagaimana para WNA membeli properti di Indonesia. Apakah mereka membeli properti melalui bank lokal atau bank asing. Untuk itu, Menpera menyatakan pihaknya sedang mengkaji peraturan-peraturan yang menyangkut kepemilikan properti oleh orang asing.

Menpera berharap peraturan tentang kepemilikan properti oleh WNA bisa selesai sebelum pertemuan FIABCI di Bali beberapa bulan mendatang.

Selain sebagai ajang promosi properti kepada WNA, dalam pertemuan itu pemerintah juga ingin menunjukkan prestasi dalam rangka menanggulangi masalah perubahan iklim dunia.  "Pemerintah menargetkan penanaman sekitar 4 juta pohon di Indonesia," katanya. (Sumber: kemenpera.go.id)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

"Avantie Can Cook" di Teraskota BSD

Posted: 19 Mar 2010 03:16 PM PDT

Jumat, 19/3/2010 | 22:16 WIB

BSD, KOMPAS.com - "Avantie Can Cook" adalah restoran baru di Teraskota BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Nama "Avantie" memang ada kaitannya dengan desainer terkemuka, Anne Avantie. Benarkah Avantie bisa memasak?

Sebetulnya pengelola restoran ini salah satunya putra Anne Avantie, Ernest Christoga (18) yang menyebut dirinya Chef de Cuisine. Dua lainnya adalah keponakan Anne, Ronald Prasanto (29) menyebut dirinya Coffee Artist dan Dicky Prasanto (32) sebagai General Manager. Ketiga anak muda yang memiliki 'passion' dalam food and beverage dan manajemen restoran ini bekerja sama.

Restoran yang dibuka 21 Februari 2010 lalu itu, sudah memikat pengunjung, terutama anak-anak muda. Cukup banyak anak muda, di antaranya mahasiswa, yang datang kembali, duduk berjam-jam di sana. Mereka membawa laptop dan netbook dan berselancar di dunia maya. Di dekat Teraskota, memang ada kampus Swiss German University (SGU) dan sekolah-sekolah swasta seperti Al Azhar dan St Ursula. "Kami menciptakan persahabatan di restoran ini," kata Ernest, anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Ernest menceritakan sejak duduk di bangku SMP Maria Goretti Semarang, dia sudah menyukai kuliner. Saat duduk di SMA Kolese Loyola Semarang, pada usia ke-17, Ernest mendapat hadiah mesin kopi dari keluarganya. Ernest pun belajar meracik kopi seharian, sampai-sampai dia tidak naik kelas. Rupanya tidak suka belajar pendidikan umum dan minta kepada ibunya untuk berhenti sekolah. Anne Avantie sempat memanggil Kak Seto untuk menasihati putranya, namun ternyata Kak Seto malah mendukung Ernest untuk berhenti sekolah di SMA dan masuk "home schooling".

"Sebenarnya mama mendukung saya berkarya tapi mama stres karena mendengar omongan orang tentang saya. Dikira orang, saya malas-malasan. Tapi saya sudah bertekad mendalami kuliner," ceritanya. Tahun 2008, Ernest masuk sekolah kuliner di Chezlely di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, menyelesaikan tiga tahapan. Setiap tahapan membutuhkan waktu tiga bulan. "Yang dipelajari dalam sekolah kuliner ini terutama makanan fine dining, masakan Eropa. Saya belajar masakan dari 16 negara dan masakan fusion Eropa. Saya dituntut untuk bisa membuat resep masakan sendiri," ungkapnya.

Setelah menyelesaikan sekolah kuliner tahun 2009, Ernest mengaku sempat bingung. Pada HUT ke-18, dia dikasih hadiah blender yang bagus. Ernest lalu mengambil private chef, guru privat khusus koki. Dia belajar manajemen dapur. Akhirnya seiring dengan berjalannya waktu, Ernest siap membuka restoran sendiri. Dua sepupunya, Ronald dan Dicky berdiskusi dan melakukan survei tempat. Mereka berputar-putar ke daerah Jabodetabek.

"Kami mencari lokasi di Gedung Sampoerna. Summarecon Mal Serpong, dan Teraskota BSD. Untuk menyewa di Kelapa Gading, terlalu mahal. Akhirnya kami memilih di Teraskota. Kami memilih tempat ini karena kami merasakan dan membayangkan jika restoran kami berlokasi di sini, sepertinya enak. Itu terjadi pada September 2009. Sebulan kemudian, kami melakukan deal. Restoran mulai dibangun Desember 2009," cerita Dicky.

Ketiga anak muda ini memutuskan untuk membangun restoran bersuasana "cozy", mengedepankan konsep coffee dan restoran, juga menyediakan kelas untuk belajar membuat kopi, cokelat, dan cuisine. Mereka memiliki berbagai jenis kopi: aceh gayo, blue linthong, madailing, sidikalang, java, kopi bali, flores, timor timur, toraja kalosi, dan wamena yang memiliki aroma paling unik. "Ternyata kelas ini peminatnya cukup banyak," kata Dicky, sarjana Teknik Mesin Universitas Trisakti Jakarta, yang beralih menjadi pebisnis.

"Dapur restoran ini berkonsep open kitchen, dapur terbuka. Koki-koki di dapur bisa bernyanyi. Jumlah pegawai di dapur tujuh orang, semuanya di bawah 30 tahun. Semua berjiwa muda dan memiliki kreativitas tinggi. Pemilihan karyawan bukan pada keahlian tapi melihat apakah ini hobi mereka, passion mereka," jelas Ernest.

Nama "Avantie Can Cook" berawal ketika Ronald, sarjana hukum Universitas Trisakti Jakarta ini main game Nintendo berjudul "Cooking Mama". Lalu tercetuslah ide, menamakan restoran ini "Avantie Can Cook". "Avantie itu nama keluarga. Kami ingin menegaskan bahwa Avantie tidak hanya identik sebagai desainer yang sukses, tetapi juga bisa masak, walaupun yang masak adalah anak dan sepupunya," kata Ernest lagi.

Saat datang ke restoran yang bernuansa marun ini, Kompas.com ditawari jus bakpia. Ronald membuat jus ini dari bahan dasar bakpia, dan rasanya pun luar biasa. "Kerja memang bukan soal duit, tapi soal hati," kata Dicky.

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar