Sabtu, 27 Maret 2010

Rumah Idaman “Rumah Tipe "21" Bob Sadino” plus 3 more

Rumah Idaman “Rumah Tipe "21" Bob Sadino” plus 3 more


Rumah Tipe "21" Bob Sadino

Posted: 27 Mar 2010 11:12 PM PDT

Minggu, 28/3/2010 | 06:12 WIB

oleh Arbain Rambey

"Rumah saya ini tipe 21. Tanahnya 2 hektar rumahnya 1, ha-ha-ha...," canda Bob Sadino, pemilik toko serba ada Kem Chicks itu.

"Selamat datang di rumah ini. Sebenarnya saya tidak suka membuka rumah terlalu lebar bagi orang lain karena rumah adalah sebuah kawasan yang sangat pribadi," begitu sapa Bob Sadino saat Kompas memasuki rumahnya di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, yang berhalaman sangat luas. Tapak rumahnya berukuran 1.500 meter persegi.

Tetap dengan mengenakan celana pendek yang sudah menjadi ciri khasnya, Bob bercerita tentang segala sisi rumahnya. Satu hal yang pasti, rumah Bob yang terkesan sangat mewah itu sesungguhnya justru bisa menjadi sangat sederhana kalau kita bisa memahami pikiran pemiliknya.

Bagi Bob, luas tanah 2 hektar itu bukanlah kemewahan karena dia tidak mendewakan ukuran, melainkan semata memanfaatkan yang ada. "Dulu tanah ini adalah kebun saya untuk mencari nafkah lewat agrobisnis. Manakala usaha saya berkembang dan tanah ini lalu menjadi di tengah kota, kemudian saya menanam di berbagai tempat di Jateng dan Jatim. Tanah ini kan nganggur. Ya saya manfaatkan jadi rumah," kata Bob.

Mengapa tidak dijual saja?

"Mengapa harus dijual?" tanya Bob menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

Tapi, mengapa rumah harus seluas 1.500 meter persegi?

"Begini. Kebanyakan orang telah punya mindset bahwa kalau rumahnya besar, itu kemewahan. Tunggu dulu. Bagi saya, ukuran bukan yang utama. Saya cuma ingin rumah yang tidak sempit untuk segala aktivitas saya dan keluarga dan kerabat. Jadi, ya saya bangun dengan ukuran ini," katanya.

Kemudian Bob membawa Kompas berkeliling. Kesimpulan pertama yang dirasa adalah rumah itu sungguh-sungguh sangat pribadi bagi Bob. Hampir 80 persen barang di dalamnya khas Bob Sadino. Mebel-mebel, misalnya. Sebagian besar bukanlah mebel mewah yang dibeli di toko, melainkan dari aneka kayu yang didapat Bob di sana-sini.

"Lihat bangku ini. Dari kayu yang sebagian dimakan rayap. Malah artistik kan?" tanya Bob seakan ingin diiyakan.

Bob juga memamerkan sepotong panel di atas piano. Panel itu terbuat dari kayu yang sama sekali tidak diserut. "Bagi saya, keindahan kayu justru muncul kalau dia tampil apa adanya," katanya.

Batu California
Mau tahu, dari mana Bob mendapatkan ribuan potong batu yang seakan batu bata bekas penghias bagian dalam ruang tengahnya? dari California, Amerika Serikat! Berton-ton batu itu diangkut tidak dengan kapal laut, tetapi dengan pesawat udara. Tentu saja biayanya sangatlah mahal.

"Saya datangkan batu-batu yang seakan bata bekas, padahal ini batu yang sengaja dibuat seperti ini dan disebut cultured stone, dengan pesawat terbang karena saya ingin cepat sampai," kata Bob sambil menambahkan bahwa dia langsung jatuh cinta saat melihat contoh batu itu dalam sebuah kunjungannya ke AS sekitar 20 tahun lalu.

Bagi Bob, mahalnya biaya pengiriman batu itu adalah risiko akan keinginannya. Sekali lagi, ia membantah bahwa itu kemewahan karena memang penampilannya tidak mewah. "Tapi saya sangat suka," paparnya.

Masih ada yang lebih luar biasa pada rumah yang dihuni sejak sekitar 10 tahun lalu itu. Tapak rumah yang 1.500 meter persegi sepenuhnya dibungkus dengan ubin kemerahan yang didatangkan dari Italia.

"Ubin ini juga tidak mewah penampilannya kan? Dari tanah liat dan tidak mengilap. Tapi saya sangat suka. Saya beli bukan karena mengejar kemewahan, tapi karena saya suka. Kalau ongkosnya jadi mahal, itu adalah risiko."

Kemudian, saat menjelajahi halaman rumahnya, kembali terasa bahwa halaman seluas sekitar 20.000 meter persegi itu sangat bersahaja. Tak ada kolam renang ukuran olimpiade yang seakan jadi simbol rumah orang kaya. Tanaman-tanaman yang ada pun tampak ditata tangan amatir, bukan penata taman yang biasanya bertarif mahal.

"Semua tanaman saya pilih sendiri. Dan, penempatan tanaman juga semata selera saya," kata Bob yang tinggal di rumah itu cuma dengan istrinya, Soelami, serta 20 pekerja rumah tangga. Kedua anak perempuannya, Mira dan Shanti, sudah menikah dan tinggal di tempat lain.

Dua puluh pekerja rumah tangga apakah tidak terlalu banyak?

"Ha-ha-ha..., sekali lagi, itu mindset orang bahwa kalau pembantunya banyak itu kemewahan. Bagi saya, ini kebutuhan. Dua puluh pembantu kadang bahkan sangat kurang. Kala musim kemarau, semua tanaman di rumah ini tidak boleh mati. Maka, ke-20 pembantu saya bisa kewalahan menyiraminya," papar Bob.

Misteri Angka 2121
Rumah Bob ditandai dengan pintu gerbang besi dengan angka 2121. Selain tipe rumahnya yang tipe 21, juga nomor rumah yang 2121, masih banyak 2121 lain di dalam rumah Bob Sadino. Semua mobilnya memakai pelat nomor 2121.

Mengapa 2121? Apa makna angka itu?

"Untuk kesekian kalinya, saya ingin membalik mindset orang. Apakah kalau orang memakai sebuah angka berkali-kali artinya angka itu harus punya makna?" tanya Bob.

Bagi Bob, ia hanya suka angka 2121 itu tanpa mau tahu apa maknanya dan tanpa harus ada penjelasan mengapa angka itu yang dipakainya.

"Sekadar suka, tanpa alasan apa pun, apakah tidak boleh?" tanyanya jenaka.

Tapi, bagaimana pula awalnya memakai angka itu?

"Ha-ha-ha-ha, sudah saya katakan, saya kalau suka pada sesuatu ya suka saja. Tapi, angka itu kalau dibaca dalam bahasa Inggris kan berbunyi 'tuan-tuan' (two one two one), bukannya nyonya-nyonya kan?" papar Bob lagi.

Kemudian Bob juga bercerita tentang banyak hal pribadi, termasuk kesukaannya memakai celana pendek. Pada tahun 1980-an, Bob tetap memakai celana pendek saat menerima kunjungan Presiden Soeharto ke kebunnya, yang sekarang menjadi rumahnya itu.

"Bagi saya, pakaian adalah kepribadian. Soal tudingan bahwa celana pendek simbol tidak menghargai orang lain, itu sekali lagi hanyalah mindset orang kebanyakan. Saya pernah diusir dari Gedung DPR karena semata mengenakan celana pendek. Saya dituntut memakai celana panjang kalau mau masuk ke gedung rakyat itu. Oke, saya mau bertanya. Lebih baik mana, celana pendek tapi dibeli dengan uang sendiri atau celana panjang tetapi dibayar dengan uang rakyat? Ha-ha-ha-ha," kata Bob mengakhiri pembicaraannya dengan Kompas pagi itu.

Kompas juga mendapat kenang-kenangan sebatang pohon beringin Thailand yang dibiakkan sendiri oleh Bob Sadino. (Sumber: KOMPAS Minggu)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Bolehkah Ruang Keluarga Di Bawah Kamar Mandi?

Posted: 27 Mar 2010 07:02 AM PDT

Sabtu, 27/3/2010 | 14:02 WIB

Tanya
Saya kelahiran 7 Juli 1981. Saya ingin bertanya, apabila di atas ruang keluarga ada kamar mandi, boleh atau tidak? Kalau diatas kamar tidur ada kamar mandi bagaimana? Bagaimana solusinya? Saat ini rumah yang saya tinggali menghadap ke selatan, apakah cocok untuk saya? Arah mana yang cocok untuk saya? Atas jawabannya, saya ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya.
lionochan@yahoo.com

Linda Kho menjawab
Letak kamar mandi/wc yang baik adalah yang segaris.  Dalam arti, atas kamar mandi, bawahnya juga kamar mandi. Ruang keluarga di bawah kamar mandi masih bisa ditolerir. Akan tetapi, tidak demikian untuk kamar tidur, ruang makan, dan dapur (kompor). Solusi yang terbaik adalah memindahkannya. Namun jika belum memungkinkan, pastikan saja, lubang kloset tidak persis di atas kepala (ranjang), kompor, dan meja makan. selain itu, di manapun letaknya, tidak boleh ada kebocoran (kamar mandi/ wc), karena energi qi (baca: chi), rusak.

Jika hanya mempertimbangkan tahun kelahiran anda (angka Kua), maka rumah menghadap Selatan sudah tepat. perhatikan saja di lingkungan sekitar tidak ada gangguan yang berarti.

Tanya
Dear Ibu Linda,
Saya mau bertanya, rumah kami menghadap timur dengan menghadap ke tebing. Rumah ini dibangun pada tahun 2005 dengan letak kamar mandi di ujung barat bagian selatan. Saya lahir 23 Oktober 1974 dan istri 15 April 1974. Bagaimanakah pengaruhnya terhadap rezeki dan kehidupan kami. Terima kasih atas jawabannya.
Salam, Thomas Siwicaksono

Linda Kho menjawab
Rumah Anda menghadap ke tebing, perlu anda periksa jarak dari rumah dengan jurang/ tebing, serta seberapa tinggi tebing tersebut. Rumah yang menghadap Timur (tepat), dan dibangun antara tahun 2004-2024, memiliki bintang ganda 8 di bagian belakang. itu artinya, keharmonisan dan kesehatan penghuni sangat baik, tapi kemakmuran (keberuntungan finansial) terganggu, terlebih jika pintu utama terletak di sektor Tenggara (menghadap Timur, bagian Selatan). letak kamar mandi di sektor Barat Daya tidak masalah. Salam

Tanya
Saya ingin tanya, saya lahir 19 Mei 1978, Istri 11 Oktober 1979, kami tinggal di Rumah orang tua dengan menghadap selatan. Apakah saya cocok tinggal di rumah tersebut, rumah di daerah Cipete...
Dodo

Linda Kho menjawab
Berdasarkan tahun kelahiran anda, anda berkua 4, dan isteri ber-kua 3. Ini berarti anda berdua termasuk orang kelompok Timur. Arah hadap yang baik untuk orang kelompok Timur adalah: Timur, Tenggara, Selatan, Utara. Demikian jawaban yang bisa diberikan.

 

Linda Kho
http://www.fengshuikita.com

Linda Kho, pakar feng shui, tinggal di Salatiga, Jawa Tengah. Linda belajar feng shui secara otodidak mulai tahun 2002. Kemudian pada tahun 2005, Linda belajar feng shui dari Master Vincent Koh (Singapura) di Singapore Polytechnic. Dan pada tahun 2007, Linda memperdalam ilmu feng shui dari Grandmaster Raymond Lo (Hongkong).

Catatan: semua pertanyaan tentang fengshui, dikirim ke email properti@kompas.com

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

The Architecting, Proses Berpikir yang Menyimpang

Posted: 27 Mar 2010 06:30 AM PDT

Sabtu, 27/3/2010 | 13:30 WIB

oleh Erwin H Hawawinata 

Beberapa hari yang lalu, saya sempat bertemu dengan seorang sahabat serumpun dari "negeri seberang" yang berkecimpung dalam proses manajemen suatu proyek. Kami memang sedang merencanakan suatu proyek.  Kami berdiskusi dan berdebat,sampai pada akhirnya menemukan suatu solusi.

Pada proses diskusi dan perdebatan tersebut,ada satu hal yang saya lihat sebagai nilai positif dan nilai negatif dari pemikiran sahabat saya tadi.

Nilai positifnya adalah dia selalu memikirkan segala sesuatu di awal untuk rencana kerja ke depan, dan selalu mengulang teknik-teknik dan konsep yang pernah dilakukan sebelumnya.

Nilai negatifnya adalah dia selalu risau dan pola berpikir yang cenderung ingin selalu "aman" sehingga proses kreatifitas sering kali terhambat.

Saya kembali berpikir, apakah "bermimpi" merupakan angan-angan yang tidak dapat diwujudkan?

Kembali saya tertawa dalam hati,karena saya tipe orang yang sangat senang "bermimpi",sedangkan sahabat saya ini selalu berpikir bahwa mimpi itu hanya "bunga" pada saat tidur.

Ada kesinambungan dan keseimbangan yang romantis sebenarnya. Benar! Keseimbangan, itu mungkin kata yang tepat

Berpikir sistematis, untuk mewujudkan suatu "mimpi" adalah proses yang sangat dibutuhkan dalam rencana perwujudan.

Sedangkan "mimpi" itu sendiri merupakan "ice breaker" terhadap segala macam perulangan ide yang ada.

Saya teringat kembali, sewaktu pada semester awal kuliah ,untuk menjadi seorang "arsitek". Membuat "corat-coret"pada selembar kertas sketsa,sekedar mencari ide atau hanya sekedar "mengotori" kertas putih.  Syukur-syukur ada suatu bentuk yang tercipta dari proses corat-coret yang tidak sengaja.

Menjadi suatu maha karya, entah hal tersebut bisa diwujudkan atau tidak, tetapi memang dibutuhkan "kesadaran" ilmu lain untuk menjadikan suatu ide menjadi kenyataan.

Mungkin kita pernah membaca suatu buku " The Magic of Thinking Big" karya David J. Schwartz, bahwa kekuatan pikiran, kekuatan cita-cita, akan mewujudkan sesuatu bahkan yang mustahil sekalipun. Buku ini sekarang banyak sekali digunakan sebagai "buku suci" untuk para anggota MLM (multi level marketing) atau para motivator andal dunia.

"The Magic of Thinking Big" inilah yang saya maksudkan dengan "The Architecting" dalam dunia arsitektur.  Kemampuan berkreasi dan mengembangkan suatu ide -ide segar untuk menciptakan sesuatu yang bahkan "mustahil" untuk diwujudkan, dan hambatan -hambatan yang muncul, justru akan membuat kita semakin andal karena akan menemukan solusi yang selama ini selalu tidak pernah dijumpai.

Mungkin kita sempat tercengang dengan The Palm Jumeirah di Dubai, UEA, bagaimana cita-cita besar mereka menciptakan daerah reklamasi yang menjadi suatu "trend setter"baru untuk kawasan hunian.

Ada lagi contoh lain seperti arsitek dunia, IM. Pei mewujudkan "The Louvre Pyramid" nya pada Louvre Palace, Paris.

Kita lihat dari contoh-contoh di atas, bagaimana terjadinya suatu proses penciptaan "perkawinan" yang manis antara berbagai macam ilmu untuk mewujudkan sesuatu yang "wild " dan bahkan belom pernah dipikirkan sebelumnya.

Proses penciptaan adalah suatu proses maha karya sebesar cita-cita besar penciptanya. Jangan takut untuk bermimpi, semakin besar mimpi kita,akan mendekatkan kita pada suatu hasil "maha karya".

Be Divergent! Selamat berkreasi arsitek Indonesia.....


Erwin Hawawinata
Chief Design Officer @ hawawinata n associates

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Mengapa Memilih Apartemen?

Posted: 27 Mar 2010 06:18 AM PDT

Sabtu, 27/3/2010 | 13:18 WIB

 Tanya:
Pak Panangian, saya lihat sekarang banyak banyak dibangun apartemen, kondominium, rusunami, rusunawa. Sebenarnya, mengapa orang memilih apartemen sebagai tempat tinggal?

Herman, Jakarta

Jawab:
Apartemen adalah blok bangunan yang di dalamnya terbagi-bagi dalam sejumlah ruang atau unit, yang dipasarkan secara strata-title atau disewakan. Di luar itu, ada juga istilah kondominium yang juga merujuh kepada apartemen. Keduanya pada dasarnya sama pengertiannya. Yang membedakan hanya istilahnya. Kondominium adalah penguasaan beberapa atau sejumlah orang atas sebuah properti atau bangunan besar. Jadi apartemen lebih menunjuk ke pengertian fisik, sedangkan kondominium merujuk kepada hak atau istilah legal.

Apa pun itu, bagi kalangan muda sebenarnya tinggal di apartemen adalah pilihan paling tepat. Pasalnya, orang muda masih sangat produktif dan mobile. Waktu di rumah praktis hanya untuk beristirahat atau tidur dan momong anak. Jadi, tidak banyak waktu untuk merawat rumah, menjalankan hobi, atau mengisi waktu luang di rumah. Karena itu hunian yang paling tepat adalah praktis dan tidak membutuhkan banyak keterlibatan pemilik untuk merawatnya. Dan hunian seperti itu adalah apartemen.

Selain itu lokasi partemen biasanya di tengah kota yang dekat dengan berbagai pusat kegiatan (bisnis, komersial, pendidikan, kesehatan, hiburan, dan lain-lain). Untuk paangan muda yang mobile namun penghasilannya belum begitu tinggi, situasi ini cocok karena dengan tinggal di apartemen, mereka tidak harus mengeluarkan biaya transportasi yang besar. Anggota keluarga pasangan muda pun masih sedikit. Anak, kalaupun ada, masih balita. Jadi tidak perlu hunian yang besar. Apartemen 36 m2-45 m2 pun cukup.

Selain itu, dengan tinggal di apartemen di dalam kota, pasangan muda juga lebih mudah mengatur waktu untuk anaknya yang masih kecil, yang masih butuh perhatian ekstra orangtuanya. Di negara-negara maju seperti Jepang, sekitar 60 persen penduduk usia produktifnya tinggal di apartemen di dalam kota, sehingga pusat kota memadat. Untuk itu pemerintah memberi insentif berupa keriganan pajak, subsidi bunga, regulasi, dan lain-lain. Sementara kalangan yang lebih tua dan mapan, terserah mau tinggal di mana, di dalam kota di apartemen atau di rumah biasa di pinggir kota yang lebih jauh dari pusat kota dan sedikit populasinya.

Di Indonesia, situasinya terbalik. Kalangan berusia produktif yang mobilitasnya masih tinggi dan tidak punya waktu mengurus rumah, justru tinggal di pinggir kota sehingga tidak efisien. Padahal, penghasilan mereka masih bertumbuh. Sementara kalangan mapan dan berpenghasilan besar tinggal di dalam kota. Tidak ada kebijakan atau insentif pemerintah untuk membalikkan keadaan itu. Pengembangan apartemen diserahkan begitu saja ke mekanisme pasar.

Akibatnya, yang dipasarkan pengembang hanya apartemen untuk kalangan menengah atas dan apartemen mewah yang hanya terjangkau kalangan mapan. Apartemen identik dengan hunian eksklusif  untuk kalangan terbatas, bukan berfungsi mengendalikan penyebaran penduduk, mengefisienkan mobilitas, mengurangi kemacetan, dan pemborosan energi, meminimalisir degradasi kualitas lingkungan hidup, dan seterusnya. Ini kelemahan pengembangan permukiman di kota-kota di Indonesia. Tidak memiliki urban concept. Di negeri ini tidak ada semacam menteri perumahan dan pengembangan kota. Yang ada hanya menteri pembangunan perumahan.

Sejak lima tahun terakhir, sudahbanyak pengembang yang berinsiatif menawarkan apartemen menengah seharga hingga Rp 600 jutaan yang terjangkau kalangan muda di tengah kota, tanpa harus menunggu insentif pemerintah. Setelah itu juga ramai penawaran rumah susun sederhana hak milik (rusunami) yang harganya lebih murah lagi, bahkan mendapat pembebasan pajak dan subsidi bunga kredit dari pemerintah.

Kesempatan inui seharusnya dimanfaatkan kalangan muda untuk mulai menjadikan apartemen sebagai alternatif hunian. Paling tidak sebagai hunian pertama. Kelak setelah penghasilan mulai mapan, anak-anak mulai besar, aktivitas dan kebutuhan ruang keluarga tidak mampu lagi ditampung di apartemen, barulah mereka pindah ke rumah biasa (landed residential) yang lebih besar di pinggir kota. Unit apartemen bisa disewakan kepada pasangan yang lebih muda. Bagaimanapun harus diakui, bagi sebagian orang membina keluarga dan membesarkan anak yang paling baik tetaplah di rumah biasa (landed house), kendati pendapat itu masih menjadi perdebatan.

Hanya saja memang, tinggal di apartemen menuntut sikap yang rasional, efisien, simpel, praktis, dan mandiri. Tenggang rasa pun harus lebih tinggi karena tetangga kita tidak hanya di sampuing kiri dan kanan tapi juga di atas dan di bawah. Menerima tamu dan mengundang kerabat pun tidak bisa lagi sesukanya seperti di rumah. Bukan hanya karena bisa menganggu tetangga tetapi kapasitas setiap unit apartemen sangat terbatas. Jadi kalau mau ngumpul, kita harus melakukannya di ruang pertemuan yang disediakan di setiap apartemen. Di apartemen, kita juga tidak bisa berkebun atau memelihara pohon seenaknya kecuali pphon yang moveable di dalam toples atau pohon yang ditanam dengan sistem hidroponik.

Mengoleksi barang pun harus diperhitungkan karena kalau terlalu banyak, tidak mungkin ditempatkan semua di unit apartemen. Sementara menaruhnya di koridor setiaplantai adalah terlarang karena selain mengorupsi hak bersama, juga berbahaya. Kalau terjadi keadaan darurat, barang-barang itu akan menganggu mobilitas penghuni apartemen yang menyelamatkan diri atau evakuasi.

Pendeknya, tinggal di apartemen adalah budaya komunal modern, rasional yang menghormati kemajemukan. Dalam sistem budaya itu ada tenggang rasa, tapi tenggang rasa yang dituangkan dalam aturan tertulis berikut sanksinya yang disusun dan disepakati semua penghuni melalui Perhimpunan Penghuni Rumah Susun (PPRS). Aturan itu dirumuskan dan diawasi bersama pelaksanaanya, berlaku untuk semua penghuni dari sistem budaya apapun dan tidak tergantung pada tokoh panutan.

Masyarakat kita sebenarnya sudah akrab dengan budaya komunal itu, tapi budaya komunal tradisional yang homogen-paternalistik. Dalam sistem budaya ini, ada tepa salira, tapi sifatnya tidak tertulis, longgar, lebih ditujukan kepada penganut sistem budaya yang sama dan penerapannya tergantung patron. Karena itu, di kota yang warganya terdiri dari banyak etnis dan individualistis, budaya itu memerlukan penyesuaian agar bisa diterapkan dalam relasi sosial.

Terlebih-lebih di apartemen yang konsentrasi manusianya begitu tinggi, ratusan orang berdiam di atas tanah dan bangunan yang sama, menggunakan fasilitas yang sama. Ketidakpedulian yang satu bukan hanya menganggu yang lain tapi bisa mengancam keamanan seisi apartemen. Bahkan pertengkaran anak-anak atau acara memasak yang terlalu hot di apartemen Anda cukup membuat pusing tetangga. Berkaitan dengan itu, sejumlah hal perlu kita perhatikan dan pahami bila hendak membeli dan menghuni apartemen.

*) Panangian Simanungkalit, pakar perumahan nomor 1 di Indonesia dan penulis buku "Beli Rumah dan Apartemen, Tips dan Trik"

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar