Rabu, 17 Maret 2010

Rumah Idaman “Kenaikan TDL Tidak Pengaruhi Pembangunan Rumah Rakyat” plus 2 more

Rumah Idaman “Kenaikan TDL Tidak Pengaruhi Pembangunan Rumah Rakyat” plus 2 more


Kenaikan TDL Tidak Pengaruhi Pembangunan Rumah Rakyat

Posted: 18 Mar 2010 02:15 AM PDT

Kamis, 18/3/2010 | 09:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa menyatakan, adanya rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 15 persen oleh pemerintah pada bulan April mendatang tidak mempengaruhi sektor properti di Indonesia. Pasalnya, kenaikan TDL diperuntukkan untuk properti yang memiliki KVA tertentu.

Menpera berharap para pengembang tetap membangun perumahan bagi masyarakat berpenghasilan menengah (MBM) dan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) karena dua sector perumahan itu tidak mengalami kenaikan TDL. "Saya menilai adanya rencana kenaikan TDL untuk sementara tidak berdampak pada sektor properti," ujar Menpera, Rabu (17/3).

Menpera menjelaskan, rencana kenaikan TDL rencananya diperuntukkan untuk properti yang memiliki KVA tertentu yakni untuk properti atau perumahan yang memiliki KVA di atas 900 KVA. Sedangkan untuk perumahan bagi masyarakat berpenghasilan menengah (MBM) dan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tidak mengalami kenaikan TDL.

"Perumahan untuk MBR dan MBM biasanya memiliki KVA di bawah KVA 900 watt yakni sekitar 450 watt. Tentunya perumahan tersebut tidak terkena dampak kenaikan TDL" tandasnya

Menpera menambahkan, pemerintah terpaksa menaikkan TDL karena PLN memiliki beban biaya yang cukup besar. Menpera juga berharap dengan kenaikan TDL ini PLN bisa meningkatkan rasio kelistrikan di seluruh wilayah Indonesia. "Saya harap dengan kenaikan TDL listrik di Indonesia tidak byar pet lagi," katanya. (Sumber: kemenpera.go.id)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Kota Medan Miskin Taman

Posted: 18 Mar 2010 02:10 AM PDT

Kamis, 18/3/2010 | 09:10 WIB

MEDAN, KOMPAS.com  —  Kota Medan ternyata hanya mempunyai taman seluas 21,5 hektar yang tersebar di 81 taman di seluruh kota. Angka itu tak sebanding dengan luas kota Medan yang mencapai 26.510 hektar.

Selama ini penghitungan ruang terbuka hijau yang dinyatakan 5-7 persen dari luas kota di dalamnya ternyata mencakup makam yang luasnya mencapai 57,2 hektar, lapangan olahraga 16,89 hektar, dan taman segitiga di tengah jalan.

Angka 21,5 hektar juga termasuk taman-taman yang dikelola oleh sekolah-sekolah. "Maka, jika ada lahan kosong di kota, kami semangat sekali untuk menjadikannya taman," tutur Kepala Bidang Taman/Makam Dinas Pertamanan Kota Medan Nurdin Ashari, Rabu (17/3/2010).

Dinas Pertamanan pada 2009 membuat dua taman baru, yakni di belakang kantor polisi Helvetia dan Jalan Petula. Adapun tahun lalu, ruang hijau yang hilang adalah taman segitiga antara Jalan Raden Saleh dan Merdeka Walk serta sudut pintu gerbang Tol Amplas yang terkena perluasan jalan.

Menurut Nurdin, perkembangan baik mulai muncul. Saat ini banyak perumahan baru yang menyediakan taman bermain bagi warganya. Namun, banyak pula warga yang tidak mau turut merawat.

"Banyak pohon yang kami tanam diracun warga," tutur Nurdin. Selain sebagai peneduh, penanaman pohon di pinggir jalan juga untuk menghindari berdirinya pedagang kaki lima. Namun, yang terjadi, banyak pedagang yang justru mematikan pohon peneduh yang ditanam petugas.

Pembangunan ruko-ruko di pinggiran Kota Medan juga kurang memberikan ruang pada pepohonan, seperti yang terjadi di Jalan Gagak Rimang.

Nurdin mengakui, pertumbuhan penduduk yang pesat membuat pembangunan taman tersisih. Aturan ruang terbuka hijau seluas 30 persen dan ruang terbuka untuk publik seluas 20 persen luas kota sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang belum dipenuhi.

Kepala Seksi Pemakaman Yan Anwar menambahkan, Pemerintah Kota Medan juga sudah kekurangan lahan untuk makam. Saat ini Pemkot Medan mengelola sembilan makam. (Aufrida Wismi Warastri/KOMPAS Cetak)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Penjualan Properti di Singapura Melonjak

Posted: 17 Mar 2010 03:39 PM PDT

Rabu, 17/3/2010 | 22:39 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com -  Penjualan properti di Singapura melonjak dengan jumlah unit yang terjual lebih banyak dibandingkan prediksi para analis. Para pembeli juga tidak khawatir dengan kenaikan harga properti. 

Meskipun bulan Februari merupakan bulan yang pendek, namun pasar real estate di negeri ini mencatat 1.196 rumah pribadi baru terjual, lebih banyak dibandingkan jumlah yang terjual bulan Januari 1.480 unit, dan jauh lebih banyak dibandingkan penjualan bulan Desember 2009 yang tercatat 481 unit.

Secara keseluruhan, penjualan bulan Januari dan Februari mencatat jumlah 2.676 unit. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan jumlah unit terjual pada tiga bulan pertama tahun 2009, yaitu 2.596 unit. "Dengan momentum penjualan pada bulan Januari dan Februari, dan Maret, saya yakin penjualan rumah baru pada kuartal pertama tahun 2010 mencapai 2.000 unit," kata Direktur Eksekutif CBRE Research, Li Hiaw Ho.
 
Angka-angka ini mengindikasikan bahwa kebangkitan properti di negara ini lebih cepat dari yang dipikirkan sementara orang. CEO ProNex Mohamed Ismail menyebutkan angka-angka ini sangat mengesankan mengingat liburan Tahun Baru Imlek biasanya penjualan lebih sepi. Bulan Februari juga bulan paling singkat dan langkah-langkah pendinginan pasar mulai berlaku.
 
"Kinerja yang kuat ini merupakan bukti dari kekuatan permintaan akan rumah oleh para pembeli yang akan menempatinya dan para investor,"  kata Direktur Riset dan Penasihat Colliers International, Tay Huey Ying.
 
"Pembeli tampaknya melihat masa depan yang potensial menyusul langkah-langkah yang dilakukan pemerintah sehingga mereka percaya diri dan yakin akan mendapat keuntungan dari apresiasi harga," katanya.
 
Para pengembang meluncurkan 1.161 unit rumah bulan Februari, sedangkan 1.426 unit pada bulan Januari 2010, menurut angka terakhir yang dikeluarkan Urban Redevelopment Authority (URA) Singapura.  Sebagian besar penjualan bulan-bulan lalu, berlokasi di kawasan utama ataupun daerah suburban.

Jika harga properti terus baik maka langkah-langkah pendinginan diperlukan, kata Chua Yang Liang, Kepala Riset Jones Lang LaSalle kawasan Asia Tenggara. Pajak capital gain tampaknya salah satu opsi yang paling memungkinkan.

Kebijakan bea materai kepada penjual diberlakukan bulan lalu. Langkah ini dapat mengurangi penjualan baru oleh orang lain sekitar 5 persen sampai 10 persen, dan dampaknya cenderung terhadap para spekulan dalam pasar penjualan kembali," tambah Chua. (Sumber: propertywire.com)
 
 

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar