Selasa, 16 Maret 2010

Rumah Idaman “Kredit Properti Bank Asing dan Campuran Anjlok” plus 2 more

Rumah Idaman “Kredit Properti Bank Asing dan Campuran Anjlok” plus 2 more


Kredit Properti Bank Asing dan Campuran Anjlok

Posted: 17 Mar 2010 12:54 AM PDT

Rabu, 17/3/2010 | 07:54 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai penyaluran kredit properti oleh kelompok bank asing dan bank campuran terus merosot turun. Mengutip data terbaru statistik ekonomi dan keuangan Indonesia yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia (BI), nilai kredit properti bank asing dan bank campuran hingga Januari 2010 tercatat sebesar Rp 6,428 triliun.

Nilai ini anjlok 42,62 persen dibandingkan dengan Januari 2009 yang masih sebesar Rp 11,203 triliun. Bila dihitung pertumbuhan dari akhir Desember 2009 ke Januari 2010 alias year to date, penyaluran kredit properti bank asing dan bank campuran tercatat minus 39,34 persen.

Akhir tahun lalu, nilai kredit properti mereka masih sebesar Rp 10,597 trilliun. Tercatat, jenis kredit properti di bank asing dan bank campuran yang penyalurannya paling terpukul adalah jenis kredit kepemilikan rumah (KPR) dan apartemen (KPA).

Per Januari 2010, nilai penyaluran KPR dan KPA bank asing hanya sebesar Rp 511 miliar. Turun hingga 64 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp 1,42 triliun. Adapun bila dibandingkan dengan posisi Desember 2009, penurunannya mencapai 69,2 persen.

Untuk jenis kredit real estate, nilai penyalurannya hanya sebesar Rp 2,08 triliun. Turun lebih dari setengah, tepatnya 53,46 persen dari posisi akhir tahun lalu. Sedangkan bila dibandingkan dengan posisi Januari 2009, penurunannya mencapai 46,83 persen.

Penurunan yang cukup signifikan juga melanda penyaluran jenis kredit konstruksi. Per akhir Januari 2010, kredit konstruksi yang diberikan oleh bank asing dan bank campuran hanya sebesar Rp 3,83 triliun. Turun 34,6 persen dari Januari tahun lalu.

Secara umum, hingga akhir Januari lalu, pertumbuhan kredit properti perbankan nasional memang masih belum terlalu bergairah. Sepanjang Januari, nilai kredit properti perbankan tercatat susut 3,4 persen menjadi Rp 206,86 triliun, dari posisi akhir tahun yang masih sebesar Rp 214,14 triliun.

Syukurlah, pertumbuhan tahunan kredit properti masih positif yakni mencapai 7,24 persen. KPR dan KPA masih bertumbuh 15,6 persen. Kredit real estate tumbuh 11,07 persen. Kredit konstruksi satu-satunya yang mencatat penurunan menjadi sebesar Rp 51,44 triliun, atau susut 10,38 persen. Lesunya penyaluran kredit properti perbankan tak lepas dari krisis ekonomi sejak dua tahun lalu.

Mengutip survei perbankan terakhir BI, greget perbankan menyalurkan kredit ke sektor properti diperkirakan masih belum bangkit tahun 2010 ini. Bank masih akan pelit menyalurkan kredit yang sifatnya jangka panjang. Termasuk di antaranya adalah sektor properti dan bangunan yang biasanya menyerap kredit investasi bertenor panjang. "Yang dihindari oleh bank terutama adalah untuk pembangunan mal dan apartemen," jelas BI dalam survei yang dirilis bulan lalu.

Chief Financial Officer Bank CIMB Niaga Faisal Dharmasetiawan menuturkan, pada dasarnya putusan penyaluran kredit ke sebuah sektor akan selalu dihitung sesuai dengan risiko dan bobot portofolionya. Misalnya, jika portofolio kredit ke sebuah sektor sudah besar dan risikonya juga meningkat, bank akan cenderung mengerem penyaluran kredit ke sektor tersebut. "Kredit konstruksi memang lebih besar resikonya ketimbang KPR, maka itu KPR kami masih terus gencar," katanya. (Ruisa Khoiriyah/KONTAN)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Pengusaha Properti Khawatir Dampak Kenaikan Baja Dunia

Posted: 17 Mar 2010 12:45 AM PDT

Rabu, 17/3/2010 | 07:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski mengaku tak terlalu khawatir dengan dampak rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 15 persen Juli nanti, pengusaha properti kini justru tengah berhitung dampak kenaikan harga baja dunia yang terus menanjak belakangan ini. "Soalnya baja adalah komponen terbesar kedua dalam proyek properti," kata Teguh Satria Ketua Real Estate Indonesia (REI).

Teguh mengatakan komponen terbesar yakni semen mengambil porsi sekitar 20 persen dari biaya produksi atau pembangunan rumah. Meski baja tak sampai 20 persen, namun ia menilai dampaknya akan cukup signifikan. Soalnya, baja termasuk komoditas yang bersifat bak lokomotif harga.

"Pengaruh harga baja sangat besar terhadap tren harga komponen lain," terang Teguh. Itu sebabnya kekhawatiran soal harga produksi terus membayangi.

Meski demikian, Teguh mengaku belum bisa memprediksikan pengaruh kenaikan harga baja dunia ini terhadap harga jual properti. "Kita lihat trennya dulu selama beberapa waktu ke depan atau setidaknya dalam bulan Maret ini," katanya.

Menanjaknya harga baja belakangan ini, lanjut Teguh, merupakan dampak dari menggeliatnya pembangunan di China. Negara tirai bambu tersebut kini memang tengah bersemangat melakukan proyek-proyek infrastruktur dan properti..

Akibatnya, pasokan baja dunia terserap cukup besar. Pada saat yang sama, kapasitas produksi baja dunia pun tidak bertambah. Beberapa negara penghasil baja mengaku telah memaksimalkan utilisasinya.

"Kami sudah berproduksi secara maksimal, bahkan tidak sempat ekspor karena sudah terserap habis di dalam negeri," kata Irvan Kamal Direktur Marketing PT Krakatau Steel.

Permintaan riil baja hasil produksi Krakatau Steel hingga akhir tahun lalu sudah mendekati 225.000 ton per bulan. Dengan memanfaatkan kapasitas produksi hingga 90 persen, Krakatau Steel bisa memproduksi hingga 200.000 ton baja per bulan.

KS memperkirakan harga internasional untuk baja plat hitam pada Juni 2010 bisa menembus US$700/ton, naik 40 persen dibandingkan proyeksi harga sepanjang bulan ini yang berkisar US$ 500/ton. (Nadia Citra Surya/KONTAN)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Pengembang Perumahan Belum Rasakan Dampak PPN

Posted: 16 Mar 2010 07:47 AM PDT

Laporan wartawan KOMPAS Dwi Bayu Radius

Selasa, 16/3/2010 | 14:47 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Pengembang perumahan belum merasakan dampak signifikan dengan diterapkannya pajak pertambahan nilai (PPN) pembangunan rumah atau bangunan. Pajak untuk pembangunan dengan luas lebih dari 300 meter persegi itu sudah berlaku sejak Februari 2010.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Real Estat Indonesia (REI) Daerah Jabar Hari Raharta di Bandung, Selasa (16/3/2010)  mengatakan, dampak PPN pembangunan rumah dan bangunan itu lebih dirasakan wajib pajak perorangan. Mereka adalah pemilik lahan dan mendirikan rumah atau bangunan sendiri.

"Bisa juga perusahaan yang mau membangun kantor. Akan tetapi, pengaruhnya belum terlalu relevan terhadap pengembang," kata Hari.

Pengembang memang membayar pajak namun bentuknya berupa PPN untuk membangun kompleks perumahan. Hari menambahkan, rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) diperkirakan juga tak akan banyak berpengaruh terhadap pengembang. Sebab, TDL dikenakan terhadap penghuni rumah. Adapun pengembang lebih memikirkan beban biaya pemasangan kabel, travo, dan tiang listrik.

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar