Kamis, 11 Maret 2010

Rumah Idaman “Baghi Basemah: Rumah Berukir Falsafah Hidup” plus 3 more

Rumah Idaman “Baghi Basemah: Rumah Berukir Falsafah Hidup” plus 3 more


Baghi Basemah: Rumah Berukir Falsafah Hidup

Posted: 12 Mar 2010 12:02 AM PST

Jumat, 12/3/2010 | 08:02 WIB

KOMPAS.com -  Berkunjung ke Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, belum lengkap jika tidak menyinggahi salah satu rumah tradisional (baghi) suku Besemah. Selain desain arsitektur yang menarik, fisik bangunan yang usianya ratusan tahun itu mengundang kekaguman bagaimana rumah tersebut dibangun.

Hal itu terutama bila melihat 15 buah tiang kayu penyangga bangunan berukuran 30 sentimeter x 30 sentimeter, enam tiang penyangga teras rumah berbentuk bulat dengan diameter sekitar 60 sentimeter, dan papan kayu rumah dengan ketebalan sekitar 5 sentimeter. Kita pasti akan bertanya-tanya, bagaimana orang-orang pada masa lalu mengangkut kayu-kayu raksasa tersebut dari dalam hutan.

Oleh karena itu, tak salah jika Pemerintah Kota Pagar Alam memasukkan rumah-rumah tradisional Besemah sebagai obyek wisata, selain benda-benda megalitikum dan wisata alam Gunung Dempo. Jumlah baghi besemah memang tidak banyak karena hanya orang-orang yang memiliki strata sosial tinggi dan punya banyak uang yang mampu membangun rumah tersebut.

"Biaya ukir rumah bisa mencapai sepertiga dari biaya total pembangunan rumah," kata pemilik baghi besemah, Musa Akib (69), di Kelurahan Pagar Wangi, Dempo Utara, Pagar Alam.

Mengenai bagaimana kayu dikumpulkan, Musa mengatakan kisah pembangunan rumahnya mengandung cerita mistis. Konon saat rumah akan dibangun, warga di sekitarnya dilarang keluar rumah pada malam hari karena akan ada pengiriman kayu. Setelah itu, keesokan paginya, kayu-kayu tiang yang dibutuhkan sudah ada di lahan pembangunan rumah.

Musa adalah generasi kelima pemilik baghi tersebut. Rumah yang terletak di tengah sawah itu diperkirakan berumur lebih dari 200 tahun. Namun, rumah yang sudah tak dihuni itu masih terlihat kokoh. Warna hitam kayu juga terlihat masih baru dan alami, tanpa dicat. Dulu, atap rumah terbuat dari daun ijuk.

Bagian dalam rumah baghi tidak memiliki sekat sama sekali. Bagian inti rumah berukuran 8 meter x 8 meter. Ruang ini berfungsi sebagai ruang keluarga, ruang tidur, sekaligus tempat menerima tamu.

Ukiran

Ketua Lembaga Adat Besemah Haji Akhmad Amran mengatakan, rumah baghi yang diukir disebut sebagai rumah tatahan (ukiran), sementara rumah yang tak diukir disebut rumah gilapan. Kualitas kayu rumah yang diukir juga jauh lebih baik dibandingkan dengan rumah yang tak memiliki ukiran.

"Bentuk kedua rumah itu sama. Hanya ada tidaknya ukiran yang membedakan karena keberadaan ukiran merupakan cerminan status sosial pemilik rumah yang tinggi," katanya.

Dalam motif ukiran juga terkandung doa dan harapan. Motif bunga dalam posisi vertikal merupakan pengharapan bahwa rezeki pemilik rumah akan terus naik. Sementara motif bunga horizontal menjadi perlambang persatuan dan gotong royong.

Motif ukir lain yang unik adalah bubulan yang berbentuk lingkaran. Motif ukir yang biasanya terletak di dinding samping rumah itu merupakan simbol persatuan yang kuat di antara sesama penghuni rumah. Bagian tengah bubulan umumnya terdapat lubang yang digunakan sebagai tempat mengintip penghuni rumah terhadap kondisi dan suasana di luar rumah.

Musa mengaku, sejumlah orang telah menawar untuk membeli rumahnya, tetapi dia tidak akan pernah tertarik berapa pun harga yang ditawarkan. Sikap Musa mewakili banyak orang Pagar Alam yang menganggap tempat tinggal sebagai tempat bersatunya keluarga untuk tumbuh lebih maju, seperti falsafah hidup dari setiap ukiran yang ada di dinding baghi besemah. (Wisnu Aji Dewabrata/M Zaid Wahyudi/Buyung Wijaya Kusuma/KOMPAS Cetak)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Bangunan Bambu Tahan Guncangan Gempa

Posted: 11 Mar 2010 11:53 PM PST

Jumat, 12/3/2010 | 07:53 WIB

GARUT, KOMPAS.com - Bangunan berbahan bambu memiliki ketahanan terhadap guncangan gempa. Namun, bentuk kearifan dan kecerdasan lokal ini tidak banyak diterapkan oleh masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah rawan bencana.

"Bangunan bambu, selain tahan gempa, juga mudah membuatnya dan murah," kata Ketua Dewan Pakar dari Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) Mubiar Purwasasmita, Kamis (11/3) di Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Di Garut, DPKLTS bersama Medco Group menyerahkan empat bangunan contoh yang dibangun dari bahan bambu kepada masyarakat. Keempat bangunan itu berupa unit rumah masing-masing berukuran 6 x 6 meter, satu bangunan sekolah, dan satu masjid.

Penanggung Jawab Pembangunan Rumah Bambu di Cisompet Bambang P Nugroho mengatakan, konstruksi bambu tahan gempa karena sifatnya yang lentur. Kelenturan ini terdapat pada pasak, kuncian, dan ikatan. Fleksibilitas inilah yang membuat bangunan bergerak menyesuaikan guncangan gempa.

Pendiri Medco Group, Arifin Panigoro, mengatakan, bukti bahwa bangunan terbuat dari bambu bisa bertahan dari guncangan gempa terdapat di kampung adat Naga di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Meskipun diguncang gempa 7,3 skala Richter pada September 2009, tidak ada satu pun rumah adat berbahan bambu dan beratap ijuk di Kampung Naga yang rusak.

Sesepuh DPKLTS Solihin GP berharap, empat bangunan bambu di Cisompet menjadi contoh bagi masyarakat. Masyarakat bisa meniru konstruksi bangunan itu. Nantinya, salah satu bangunan contoh di Cisompet akan dijadikan balai pintar yang dilengkapi perangkat teknologi informasi. Tempat ini akan menjadi pusat informasi dan pelatihan konstruksi bambu bagi warga.

Selain tahan gempa, biaya pembuatan bangunan bambu ini pun murah. Berdasarkan pengalaman DPKLTS dan Medco Foundation membangun rumah bambu di Cisompet, biaya bangunan berbahan bambu hanya Rp 500.000 per meter persegi.

Biaya itu hanya sepertiga dari biaya membangun rumah pada umumnya, yaitu Rp 1.500.000 per meter persegi. "Tidak ada biaya pembangunan yang bisa menyaingi murahnya biaya pembuatan bangunan bambu ini," kata Arifin.

Bambu merupakan sumber bahan bangunan yang banyak terdapat di Indonesia dan dapat diperbarui. Dari sekitar 1.250 jenis bambu di dunia, 140 jenis atau 11 persen di antaranya berasal dari Indonesia.

Pada kesempatan itu, DPKLTS dan Medco Foundation juga menyerahkan 7.500 tanaman. (Adhitya Ramadhan/KOMPAS Cetak)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Target Pertumbuhan Pendapatan Konstruksi 20 Persen Tahun 2010

Posted: 11 Mar 2010 11:47 PM PST

Jumat, 12/3/2010 | 07:47 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemulihan ekonomi yang diprediksi terus membaik serta berbagai stimulus dari pemerintah di bidang infrastruktur memberikan optimisme bagi perusahaan konstruksi pada tahun 2010. Mereka menargetkan pertumbuhan pendapatan mencapai 20 persen.

Bambang Triwibowo, Direktur Utama PT Adhi Karya Tbk—salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia—Kamis (11/3), mengatakan, hingga akhir tahun 2010 pihaknya menargetkan perolehan pendapatan hingga Rp 10 triliun. Jumlah itu naik 20 persen dibandingkan 2009.

Menurut Bambang, target pendapatan tahun 2010 itu akan diperoleh dengan mengerjakan sejumlah proyek baru, antara lain pembangunan jalan dan gedung.

Perusahaan konstruksi BUMN itu baru-baru ini berhasil memperoleh proyek baru berupa pembangunan Mangkuluhur Office Tower. Gedung perkantoran 30 lantai berlokasi di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, itu bernilai proyek sebesar Rp 455 miliar.

"Kami optimistis pendapatan kami tahun ini akan terus bertumbuh. Kami sedang menyasar beberapa proyek baru di samping proyek yang sudah kami dapat sebelumnya," kata Bambang.

Tahun 2009, sekalipun masih berada pada situasi perekonomian yang kurang baik, Adhi Karya mencatat pendapatan Rp 8-9 triliun (belum diaudit). Naik 20-35 persen dibandingkan tahun 2008 sebesar Rp 6,6 triliun.

Adapun laba bersih perseroan tahun 2009 adalah Rp 150 miliar (belum diaudit). Tumbuh signifikan 84 persen dari tahun 2008 sebesar Rp 81,4 miliar.

Sementara itu, Bintang Perbowo, Direktur Utama PT Wijaya Karya Tbk—yang juga salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia—mengatakan, pada tahun 2010 pihaknya menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 15 persen. Dengan asumsi target pendapatan perseroan tahun 2009 sebesar Rp 6,5 triliun, tahun ini Wijaya Karya dapat meraup pendapatan hingga Rp 7,5 triliun.

Untuk laba bersih, menurut Bintang, perseroan menargetkan pertumbuhan 30 persen. Dengan demikian, laba bersih perseroan tahun 2010 diperkirakan Rp 241 miliar, naik dari Rp 186 miliar tahun 2009.

Bintang menjelaskan, peningkatan laba bersih dan pendapatan itu akan dicapai dari peningkatan perolehan kontrak perseroan yang diperkirakan tumbuh 10 persen. Proyek-proyek tersebut tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga sejumlah proyek di luar negeri.

Wijaya Karya adalah satu dari sedikit perusahaan konstruksi di Indonesia yang telah mengerjakan sejumlah proyek pembangunan di luar negeri, antara lain di Aljazair, Afrika utara.

Bosowa dan Jordania

Sementara itu, perusahaan perdagangan semen dan clinker ternama di Timur Tengah yang berbasis di Jordania, CTI Group Inc (CTI), menandatangani kerja sama bisnis dengan Bosowa Corporation (Bosowa), mengembangkan bisnis semen Bosowa.

Naskah kerja sama kedua kelompok usaha tersebut dilakukan oleh Sadikin Aksa selaku Managing Director Bosowa Corporation dan Mazen M Djajani, Chief Executive Officer CTI, di Jakarta, Kamis (11/3). Dengan kerja sama ini, CTI menjadi investor Timur Tengah pertama di industri semen Indonesia.

Kerja sama ini diawali dengan penempatan investasi secara bertahap pada PT Semen Batam, pabrik penggilingan semen yang dimiliki Bosowa Corporation. Perjanjian tersebut difasilitasi Arqaam Capital, sebuah lembaga yang bertindak sebagai penasihat investasi CTI.

"Kerja sama ini menjadi tonggak perjalanan bisnis Semen Batam dan bisnis semen Bosowa pada umumnya. Keunggulan CTI, yang merupakan perusahaan dagang (trader) semen dan clinker terbesar di kawasan teluk, diyakini akan meningkatkan daya saing Semen Batam, yang saat ini memiliki kapasitas produksi hingga 1,2 juta ton per tahun, baik di dalam negeri maupun internasional," ujar Sadikin Aksa.

Sadikin menambahkan, Bosowa melihat transaksi kerja sama ini dapat menyinergikan utilisasi perusahaan sehingga mempunyai daya saing yang kuat, khususnya untuk Batam dan di tingkat regional. (Reinhard M Nainggolan/Andi Suruji/KOMPAS Cetak)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Perubahan Subsidi Rusunami Rugikan Konsumen dan Pengembang

Posted: 11 Mar 2010 11:38 PM PST

Jumat, 12/3/2010 | 07:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana perubahan subsidi rumah susun sederhana milik dari subsidi selisih bunga ke subsidi langsung merugikan konsumen dan pengembang. Sementara verifikasi terhadap calon konsumen rumah susun sederhana milik juga macet.

Akibatnya, pengembang yang telah melakukan serah terima kepada konsumen menghabiskan dana hingga ratusan juta rupiah per bulan untuk menalangi subsidi bunga kredit.

Direktur Utama PT Reka Rumanda Agung Abadi Untung Sampurno, Kamis (11/3) di Jakarta, mengemukakan, proses akad kredit sudah dilakukan untuk 1.700 rumah susun sederhana milik bersubsidi. Konsumen juga sudah mengajukan proses verifikasi kelayakan subsidi kepada pemerintah mulai tahun 2009.

Namun, proses verifikasi yang lamban menyebabkan baru 60 unit yang dinyatakan mendapatkan dana subsidi. Akibatnya, pengembang itu harus mengeluarkan dana talangan hingga Rp 300 juta per bulan.

Corporate Secretary PT Perdana Gapura Prima Tbk Rosihan Saad mengemukakan, pihaknya kini mengarahkan sebagian konsumen City Park untuk beralih ke pembelian rumah susun nonsubsidi.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Real Estat Indonesia Teguh Satria mengatakan, pemerintah diminta segera mengeluarkan kebijakan untuk mempercepat verifikasi rumah susun sederhana milik bersubsidi. (Brigitta Maria Lukita/KOMPAS Cetak)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar