Selasa, 23 Maret 2010

Rumah Idaman “CIMB Niaga Alokasikan Rp 7,2 Triliun untuk KPR Tahun 2010” plus 3 more

Rumah Idaman “CIMB Niaga Alokasikan Rp 7,2 Triliun untuk KPR Tahun 2010” plus 3 more


CIMB Niaga Alokasikan Rp 7,2 Triliun untuk KPR Tahun 2010

Posted: 24 Mar 2010 04:51 AM PDT

Rabu, 24/3/2010 | 11:51 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kredit pemilikan rumah (KPR) masih menjadi ujung tombak bank untuk menggenjot kredit konsumsinya. Salah satunya adalah PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) yang menargetkan pertumbuhan penyaluran KPR hingga 28 persen pada tahun ini.

Kepala Kredit Konsumer CIMB Niaga Laksmi Mustikaningrat mengatakan, per akhir 2009, outstanding KPR CIMB Niaga mencapai Rp 13,1 triliun. Dengan target kenaikan 28 persen, CIMB berharap bisa menyalurkan KPR baru sebesar Rp 3,7 triliun. "Tahun ini, alokasi dana kami untuk KPR adalah Rp 7,2 triliun," kata Laksmi, Selasa (23/3).

Laksmi mengatakan, untuk mencapai target tersebut, CIMB Niaga telah menyiapkan sederet strategi. Antara lain, meningkatkan kerja sama dengan pengembang dan agen properti, memberi pelayanan lebih baik dan lebih cepat, serta penambahan penyaluran KPR dari nasabah inti baik perorangan maupun perusahaan.

Selain itu, lanjut Laksmi, bank yang dimiliki investor Malaysia ini juga melakukan ekspansi produk KPR. Tujuannya, selain meraup nasabah KPR, juga agar produk ini menjadi ujung tombak untuk menawarkan produk-produk perbankan lain ke nasabah.

"Soalnya, melalui KPR, bank bisa membangun hubungan baik dalam jangka panjang dengan nasabah. KPR kan minimal lima tahun," ujarnya.

Sampai akhir Februari, nilai outstanding KPR CIMB Niaga sudah bertambah menjadi Rp 13,2 triliun. Artinya, dalam dua bulan penyaluran KPR CIMB naik Rp 100 miliar.

Laksmi menjelaskan, CIMB Niaga menargetkan KPR bisa mengambil porsi 15 persen dari total kredit tahun ini. Sekedar catatan, pada tahun 2009 lalu, porsi KPR CIMB Niaga juga sebesar 15 persen dari total penyaluran kredit yang mencapai Rp 82,8 triliun. Sedang, porsi Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp 86,2 triliun. "Kami akan mempertahankan porsi KPR sebesar 15 persen dari total kredit," imbuh Laksmi. (Andri Indradie/KONTAN)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Hak Kepemilikan Asing Bukan HGB, Tapi Hak Sewa dan Hak Pakai

Posted: 24 Mar 2010 01:34 AM PDT

Rabu, 24/3/2010 | 08:34 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah mengkaji batasan kepemilikan properti oleh warga negara asing di Indonesia. Batasan itu, antara lain, adalah hak kepemilikan properti oleh asing bukan berupa hak milik atau hak guna bangunan, melainkan hak sewa dan hak pakai yang waktunya diperpanjang.

Hasil kajian tersebut akan dimasukkan dalam draf revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 tahun 1996 tentang Pemilikan Rumah Tinggal atau Hak Hunian bagi Orang Asing yang Berkedudukan di Indonesia. Draf revisi PP tersebut ditargetkan selesai pada April 2010.

Peraturan yang berlaku saat ini adalah hak pakai properti oleh orang asing dibatasi hanya untuk masa 25 tahun dan dapat diperpanjang. Dalam draf revisi PP tersebut, direncanakan jangka waktu hak pakai properti bagi orang asing minimal 70 tahun.

Menanggapi materi dalam revisi PP No 41/1996, Senior Manajer Konsultan Properti Jones Lang LaSalle Indonesia, Anton Sitorus, di Jakarta, Selasa (23/3), menyatakan, pembatasan hak kepemilikan properti oleh warga negara asing berupa hak pakai atau hak sewa merupakan langkah mundur dari pemerintah.

Anton menjelaskan, apartemen dan kondominium yang dibangun di Indonesia pada umumnya dibangun di atas tanah hak guna bangunan (HGB). Adapun hak pakai berlaku untuk hunian di atas tanah hak pakai atas tanah negara.

"Revisi aturan kepemilikan properti oleh warga asing tidak akan ada artinya jika kepemilikan aset itu masih sebatas hak pakai," kata Anton.

Menurut Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa, akhir pekan lalu, kemungkinan untuk kepemilikan properti oleh asing tidak ada hak milik dan hak guna bangunan.

"Saya kira tidak akan ada hak milik dan hak guna bangunan. Yang mungkin ada adalah hak sewa dan hak pakai, tapi jangka waktunya (hak pakai) akan diperpanjang," ujar Suharso.

Rumit
Menurut Anton , hukum pertanahan di Indonesia sangat rumit. Peraturan perundang-undangan yang membagi hak atas tanah dalam beberapa kategori, mulai dari kepemilikan tanah atas hak milik, hak guna bangunan, hak pakai, hak sewa, dan hak milik atas satuan rumah susun.

Padahal, lanjut Anton, perbankan cenderung masih enggan menerima agunan properti yang berupa hak pakai.

Di Malaysia, Singapura, dan Hongkong tidak dikenal istilah hak pakai untuk properti. Kepemilikan properti di Singapura, misalnya, hanya terbagi dua, yaitu freehold yang seperti hak milik dan leasehold. Leasehold serupa dengan hak guna bangunan di Indonesia, yaitu memiliki properti dengan waktu terbatas.

"Yang dibutuhkan saat ini adalah revisi undang-undang agraria, yang mengatur jenis kepemilikan tanah," ujar Anton.

Dia menegaskan, tanpa aturan yang jelas, sulit mengharapkan warga asing mau membeli properti lebih banyak untuk menggerakkan sektor riil di Indonesia.

Pembiayaan oleh asing
Persoalan yang harus diantisipasi, menurut Suharso, adalah pembiayaan properti oleh warga asing.

Suharso menengarai, ada kemungkinan investor asing hendak membeli properti di Indonesia dengan pembiayaan dari bank lokal dan memanfaatkan properti itu untuk disewakan. Selanjutnya, uang sewanya dipakai untuk mencicil kredit dari bank lokal.

"Yang menjadi persoalan, bagaimana warga asing membiayai pembelian properti di Indonesia. Saya ingin membatasi hal itu," ujar Suharso.

Berdasarkan riset Konsultan Properti Jones Lang LaSalle Indonesia, potensi pasar properti bagi konsumen asing saat ini diperkirakan mencapai 83.000 orang. Jumlah tersebut tidak termasuk potensi turis asing yang berwisata secara rutin ke Indonesia dan berminat memiliki hunian di daerah wisata, seperti Bali. (Brigita Maria Lukita/KOMPAS Cetak)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

How This Beautiful Lady Jumps into What She Believes

Posted: 23 Mar 2010 03:53 PM PDT

Selasa, 23/3/2010 | 22:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Jessica Aurelia Tji, 25, from the Margono Family (Gapura Prima Group), is now in the property business. She studied real estate and finance in the California State University, Northridge, the United States of America, and graduated in 2006. She became director of PT Sunindo Gapura Prima after the Solo Paragon superblock construction started in 2008.

Jessica first won the Miss Bangka Belitung 2007 pageant, then went on to the Miss Indonesia 2007 and was chosen as Miss Favorite. She also made it into the 10 finalists for the 2009 Miss Tourism.

Jessica comments on the Solo Paragon project, "Solo Paragon has high-end apartments, citywalk, and a lifestyle mall. It's a project for the tallest apartment building in Central Java. It will have 25 floors." She also mentioned that the lifestyle mall will have three floors plus basement parking, and the citywalk will have outdoor and alfresco dining concepts.

The whole complex is 4.1 hectare wide, and its concept to bring together apartments, hotel, citywalk, and lifestyle mall is the first in Central Java. The Solo Paragon Hotel will have 237 rooms and will be open sometime in mid 2010. The mall will open in the end of 2011 and already has Carrefour, XXI Cinema, Ace Hardware, and Index Furnishing queuing for space.

Jessica is confident that the project will be a big hit because it's on a very strategic location, at the heart of Solo, with access from Slamet Riyadi street, Yosodipuro street, and Dr. Cipto Mangunkusumo street. Solo is a charming city, near Semarang and Yogyakarta, and soon it will have a freeway to connect it directly with Semarang. Jessica emphasized the importance to increase the development of other cities besides Jakarta and its surroundings.

Was Jessica groomed to be in the property business? "I'm the first grandchild to be in the property business. But there was no pressure." She pointed out that she once even worked in a bank. Her father, Chandra Tambayong, runs Bandung Inti Graha, which is a property developer company in partnership with PT Sunindo Gapura Prima.

The developer group has had many projects in Indonesia, such as the Solo Novotel, Solo Ibis, Yogyakarta Phoenix Hotel, Semarang Novotel, Solo Best Western Premier, Solo Grand Mall, Solo Wholesale Center, The Jakarta Bellezza Apartment, The Bellagio Apartment in Mega Kuningan Jakarta, The Bandung Majesty Apartment, Bandung Grand Setiabudi Apartment, and also the Bandung Ciumbuleuit Gallery. (Robert Adhi Ksp/C17-09)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Harga Properti Mewah di Dunia Turun, Kecuali di China, Hongkong, Singapura, Jakarta

Posted: 23 Mar 2010 03:50 PM PDT

Selasa, 23/3/2010 | 22:50 WIB

KOMPAS.com - Harga rumah-rumah mewah menjadi lebih terjangkau saat terjadi krisis keuangan tahun lalu, mulai dari Monaco sampai Barbados. Nilai real estate premier di 56 lokasi turun rata-rata 5,5 persen.

Demikian diungkapkan Knight Frank LLP, broker properti yang berkantor pusat di London, Inggris, dalam laporan yang dipublikasikan hari Selasa (23/3/10). Monaco adalah pasar properti termahal dalam dua tahun berturut-turut, disusul London dan Paris.

Orang-orang kaya menunda pembelian properti pada tahun 2009 karena khawatir dengan kondisi perekonomian dunia, demikian Knight Frank. Harga properti di pedesaan, kawasan pantai, dan resort ski, yang acapkali dibeli sebagai rumah kedua, jatuh sekurang-kurangnya 12 persen. Penurunan harga terbanyak dialami properti di Dubai (Uni Emirat Arab), Algavre di sebelah barat Portugal, Palma di Kepulauan Mallorca (Spanyol), dan Dublin (Irlandia) yang turun sedikitnya 22 persen.

"Properti di kota-kota cenderung punya performa lebih baik karena mereka memang dibutuhkan, sementara rumah-rumah pribadi di pedesaan dan resort dibeli karena merupakan pilihan," kata Liam Bailey, Kepala Riset Residensial Knight Frank.
 
Jakarta

Apartemen dan rumah-rumah mewah di perkotaan mengalami apresiasi harga rata-rata 0,4 persen. Properti yang mengalami lompatan harga adalah properti di China, Hongkong, Singapura, dan Jakarta, demikian ungkap broker Knight Frank.

"Didorong oleh pemulihan ekonomi yang sangat cepat di China dari resesi global, harga properti utama di Shanghai, Beijing, dan Hongkong naik secara fenomela tahun lalu," kata Bailey.
 
Shanghai mengalami kenaikan terbesar, di mana harga properti rata-rata antara 500 dollar AS dan 700 dollar AS per square foot, atau 52 persen lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya, menurut sebuah survei. Ini merupakan lokasi rumah mewah ke-13 termahal di antara sejumlah kota di dunia. Sebanyak 8.438 properti di Shanghai terjual tahun lalu dengan nilai total 735.000 dollar AS, sehingga membuat China pasar residensial premier terbesar di dunia saat ini.

Harga rumah-rumah mewah di Beijing naik 47 persen, sedangkan di Hongkong meningkat 41 persen menjadi rata-rata 2.000 dollar AS sampai 2.500 dollar AS per square foot, sehingga membuatnya menjadi kota keempat termahal di dunia.
 
China sudah mengambil langkah untuk mengendalikan kenaikan harga yang sangat cepat dalam pasar real estate. Pemerintah China pada bulan Januari lalu memberlakukan kembali pajak penjualan untuk rumah-rumah yang terjual dalam lima tahun terakhir. Bank of China juga meningkatkan proporsi deposito sebagai cadangan, untuk mengurangi pinjaman.
 
Harga properti di China naik 10,7 persen pada bulan Februari, angka ini merupakan tertinggi dalam dua tahun terakhir ini. Kondisi ini membuat Bank Dunia mendesak bank sentral China menaikkan suku bunga untuk mencegah terjadinya penggelembungan. 
 
Langkah pemerintah mungkin dapat mengendalikan permintaan. "Pertumbuhan ekonomi yang kuat dan persediaan yang terbatas harus menjaga kestabilan harga tahun ini," kata Xavier Wong, Kepala Riset Knight Frank untuk Kawasan China dan Hongkong.

Di Monaco, tempat tinggal juara Formula One Jenson Button dan miliarder Philip Green, harga properti jatuh sekitar 15 persen tahun lalu. Harga rata-rata apartemen atau rumah mewah dengan pajak yang rendah di Riviera berkisar antara 4.300 dollar AS sampai 5.900 dollar AS per square foot pada akhir tahun 2009, demikian diungkap Knight Frank.

Pasar rumah mewah di London yang pernah menjadi terbaik di Eropa, ikut terkena dampak akibat lemahnya mata uang poundsterling. Di Amerika dan Kanada, harga rumah mewah turun sampai rata-rata 7,7 persen, terutama di San Francisco, sedangkan rumah mewah di Karibia merosot sampai 13 persen.  
 
Laporan Knight Frank ini dilengkapi pula dengan survei atas bank swasta Citigroup Inc, yang menunjukkan bahwa 91 persen pelanggan berharap kekayaan bersih mereka tidak berubah atau sedikit meningkat tahun ini. Separuh dari responden dalam survei Citibank itu menyebutkan mereka berharap hasil yang lebih baik dari perumahan real estate tahun ini dibandingkan jenis investasi lainnya. Properti memberi kontribusi 30 persen aset-aset yang dimiliki nasabah bank, lebih banyak dibandingkan saham dan investasi lainnya.  (Sumber: Bloomberg)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar