Sabtu, 13 Maret 2010

Rumah Idaman “Bambu untuk Korban Tsunami” plus 3 more

Rumah Idaman “Bambu untuk Korban Tsunami” plus 3 more


Bambu untuk Korban Tsunami

Posted: 14 Mar 2010 05:23 AM PDT

Minggu, 14/3/2010 | 12:23 WIB

KOMPAS.com - Batang bambu bisa dimanfaatkan untuk memberdayakan masyarakat korban bencana, terutama mereka yang kehilangan rumah beserta perabotannya. Dengan teknologi terukur, tanaman rumpun itu dapat dikembangkan untuk membuat rumah darurat dan perabotan yang kuat, lentur, ringan, dan praktis.

Semangat itu diusung pameran "Bamboo and Sustainable Life: Tsunami and Post-Disaster Reconstruction" di Campus Center Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, 2-8 Maret lalu. Pergelaran yang dibarengi workshop dan seminar itu menampilkan 26 produk dari material bambu. Ini hasil kerja sama tahun kedua antara Musashino Art University, Jepang, dan Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB.

Salah satu karya menonjol adalah sebuah kubah berdiameter sekitar 3 meter rancangan Takaaki Bando, profesor science of design dari Musashino Art University. Struktur kubah itu disusun dari bilah-bilah bambu yang dirakit dengan baut membentuk pola segitiga dan segi enam. Meski cukup tipis, bilah-bilah itu membentuk kubah yang kokoh, lentur, dan ringan.

Kubah ini dibuat berdasar konsep synergetics. Artinya, kekuatan struktur dibangun dari ikatan, bukan tekanan. "Rancangan kubah ini dikembangkan berdasar hukum alam, bukan semata otak-atik pikiran manusia," kata Takaaki Bando dalam seminar terbatas di ITB, Senin (8/3).

Selanjutnya, struktur kubah bambu ini dapat diterapkan untuk membuat kerangka tenda, rumah darurat, atau rumah tinggal sementara. Para mahasiswa peserta workshop dari ITB dan Jepang mencoba menggarapnya. Mereka menyusun bilah-bilah bambu berpola segitiga menjadi kerangka atap, dinding, dan lantai tenda.

Kerangka berbentuk geometris itu lantas dibungkus kain yang menjadi atap sekaligus dinding. Agar lebih kuat, ujung-ujung kain ditarik dan ditancapkan pada dasar tanah. Salah satu sisi dinding diberi lubang sebagai pintu. Sekilas, rancangan ini mirip rumah pegunungan tradisional di Mongolia.

Rumah darurat itu bisa dirancang dengan sistem knock-down alias bongkar-pasang. Artinya, seluruh struktur dari bambu itu bisa dipereteli, dikemas, dibawa ke tempat lain, dan kemudian disambung-sambung lagi saat diperlukan. Jadi, tenda darurat itu akan gampang dipindah-pindah ke mana saja.

"Ini sumbangan desainer untuk membantu masyarakat pascabencana yang ingin membangun rumah secara cepat dan murah. Bentuk akhir desainnya bisa menyesuaikan kebutuhan setempat," kata Ketua Divisi Desain Produk Industri Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Dudy Wiyancoko.

Struktur bambu yang ringan dan lentur itu dianggap aman bagi masyarakat di kawasan pascabencana gempa atau tsunami. Masyarakat juga mudah membuatnya karena desain itu terukur dan dapat dipelajari. Tanaman bambu juga banyak tumbuh di mana-mana.

Perabotan
Pameran ini juga menampilkan produk berbagai perabotan sehari-hari dari material bambu. Sebagian besar produk memadukan berbagai karakter desain yang baik: fungsional, nyaman dipakai, mudah disetel, sekaligus indah.

Tengok saja kursi segi empat "PLY" karya Ryuta Sakaki dari Musashino Art University. Empat kaki kursi menggunakan bilah bambu yang disatukan dan dilenturkan. Begitu pula sandaran dan dudukan kursi. Meski tampak sederhana, karya ini cukup praktis dan enak dilihat.

Karakter serupa juga terasa pada meja kaca "Trio KD Table" garapan Yusuke Aunoma. Dia membuat kerangka meja dari bilah-bilah bambu agak panjang. Ujung bilah-bilah itu disambung dengan pola segitiga yang kokoh sehingga cukup kuat untuk menahan papan kaca bundar di atasnya.

Beberapa karya dari desainer ITB juga mengesankan. Salah satunya "Pincuk Set" karya Muhammad Ihsan. Dia merekatkan beberapa pilah bambu lebar menjadi semacam pincukan, mirip kapal terbuka. Karya ini dilengkapi beberapa sendok.

Arianti Ayu Puspita mencoba memanfaatkan material bambu untuk membuat otoped alias skuter dorong. Mengandalkan sistem modular, sepeda dengan dua roda kayu itu bisa digunakan anak-anak untuk bermain. Karya ini dinamai "Bamboped".

Secara keseluruhan, pameran ini menggambarkan Jepang sudah sangat maju dalam pengolahan bambu. Karya-karya berbahan baku bambu dari negeri itu tak saja indah dan fungsional, tetapi juga diolah dengan teknologi tinggi.

Para desainer Jepang memperkenalkan teknologi EDS (Ecology-Diversity-Synergy) alias ekologi-keanekaragaman-sinergi. Mereka punya standar pengolahan bambu agar awet, tahan perubahan cuaca, dan tetap punya karakter bambu. Teknik ini bersumber dari tradisi kuno serta hasil uji coba dengan peralatan modern.

Sebenarnya masyarakat tradisional di Nusantara juga punya teknik pengolahan bambu. Masyarakat Jawa, misalnya, sudah lama mengenal pengawetan bambu lewat perendaman dalam jangka waktu tertentu. Hanya saja, pengolahan itu belum dibakukan dalam standar modern dan terukur. (Ilham Khoiri/KOMPAS Minggu)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Kehangatan di Rumah Ary Sutedja

Posted: 14 Mar 2010 04:52 AM PDT

Minggu, 14/3/2010 | 11:52 WIB

KOMPAS.com - Pianis Ary Sutedja (44) membutuhkan kedekatan dengan keluarga besarnya, termasuk orangtua dan mertua. Bagi perempuan yang baru saja menggelar konser musik klasik "Bicentennial Chopin" di Jakarta ini, keterhubungan itu harus terwakili melalui desain rumah.

Ary percaya bahwa anggota keluarga yang saling terhubung akan memberikan energi positif. "Kita merasa selalu dikelilingi oleh orang-orang yang kita cintai," kata Ary.

Karena itulah Ary mewujudkan konsep keterhubungan itu pada rumahnya yang berada di Kompleks Witanaharja, Pamulang, Banten. Bersama suaminya, Mikhail David (49), Ary tidak hanya membangun rumah untuk keluarga inti mereka, tetapi juga menyatukan rumah orangtua Mikhail dan orangtua Ary dengan rumah mereka.

"Mikhail ini orang Yunani, jadi kami memiliki budaya yang sama, yaitu menganut sistem kekeluargaan," kata Ary, Kamis (11/3), ketika menerima kami di rumahnya. Menurut Ary, kalau pasangan lain yang baru menikah biasanya ingin jauh-jauh dari mertua, ia dan Mikhail justru sebaliknya. Bagi pasangan itu, kehadiran orangtua tidak akan mengganggu privasi mereka dalam berumah tangga.

Rumah yang ditempati Ary luas lahannya mencapai 2.400 meter persegi. Namun, Ary dan suaminya tidak tahu lagi berapa luas bangunannya karena rumah itu terus direnovasi. Sejauh pengamatan, kira-kira dua pertiga luas areal itu tertutup bangunan dua lantai.

Rumah Ary ini jauh dari kesan kokoh bangunan beton yang menjulang tinggi. Rumah berstruktur baja ini dindingnya lebih banyak menggunakan tempered glass, yaitu kaca yang diolah khusus sehingga tidak remuk bila pecah. Sebagian lantai rumah Ary juga terbuat dari kaca, sebagian lagi lantai kayu dan keramik.

"Saya suka sekali kaca karena kaca bisa tembus sinar dan memunculkan efek pantulan yang indah," kata Mikhail. Seluruh isi rumah memang didesain oleh Mikhail yang sejak muda menekuni seni visual.

Taman gantung
Kembali ke soal menjaga privasi, Ary dan Mikhail memberi tempat bagi Maryam Ioanna David (73), ibu kandung Mikhail di lantai dua. Rumah Maryam itu seperti bangunan yang berdiri langsung di atas tanah karena dilengkapi dengan taman yang luas lengkap dengan halaman rumputnya.

Ary menyebut taman di lantai dua itu dengan sebutan hanging garden atau taman gantung. Di halaman rumput lantai atas itu ada tujuh lubang kaca, yang fungsinya semacam genteng kaca. Selain untuk menyalurkan sinar matahari ke ruangan di bawahnya, dari lubang kaca itu Maryam bisa melihat aktivitas cucunya di lantai bawah. Rumah Maryam ini terhubung dengan anak tangga ke ruang tamu Ary.

Sebagai rasa cinta terhadap ibunya, Mikhail yang anak tunggal ini membangun kamar berbentuk tabung yang seluruh dindingnya terbuat dari kaca tidak tembus pandang. Seperti sebuah restoran mewah yang ada di bilangan Sudirman, Jakarta, kamar Maryam ini bisa berputar pelan dengan mesin khusus yang dipasang di bawah lantai.

"Supaya mami bisa terhibur dengan pemandangan yang berganti-ganti setiap hari," kata Ary. Kamar berputar itu persembahan cinta mereka berdua terhadap Maryam yang sempat terpuruk ketika rumah mereka terbakar pada tahun 2005. Kebakaran itu ikut menghanguskan 150 lukisan karya Maryam yang seorang seniman lukis.

Ary dan Mikhail juga memelihara keterhubungan mereka dengan orangtua Ary. Setelah pasangan itu menikah pada tahun 1995, orangtua Ary ikut pindah rumah yang lokasinya persis di samping rumah Ary. Ary lalu membuat jalan setapak yang langsung menembus ke ruang tamu kediaman orangtuanya.

Protes anak
Keterhubungan yang coba dibangun Ary bisa juga dirasakan oleh anak-anaknya, Elmira (12) dan Elias (9). Anak-anak ini sempat protes ketika Ary membangun kamar bagi dirinya dan suaminya di salah satu sudut areal rumahnya.

Soalnya, kamar seluas 150 meter persegi itu tidak memiliki selasar yang terhubung ke bangunan induk sehingga anak-anak harus melalui halaman rumput bila ingin ke kamar Ary. Begitu Mikhail membangun selasar beratap, anak-anak tidak lagi protes. "Dengan selasar, anak-anak merasa terhubung dengan kami," kata Ary.

Rumah yang ditempati Ary sekarang ini awalnya adalah rumah Mikhail bersama ibunya yang dibeli tahun 1987. Setelah menikah, Ary diboyong tinggal bersama Mikhail. Ketika kebakaran besar melanda rumah itu, Ary, Mikhail, dan kedua anaknya tengah berada di Yunani.

Pada peristiwa itu, bagian atas rumah mereka habis terbakar. Meski begitu, Ary dan Mikhail tak ingin pindah. Menurut keyakinan Ary yang berdarah Bali, api justru menyucikan rumah mereka sehingga memiliki aura baik bila ditempati kembali.

Meski rumah itu mencerminkan kedekatan, baik Ary maupun Mikhail merasa memiliki ruang untuk privasi mereka masing-masing. Mikhail mewujudkan ide-ide liarnya ke dalam interior rumah. Sementara Ary diberi ruang-ruang khusus untuk meletakkan tiga pianonya.

Salah satu piano besar berukuran 2,75 meter diletakkan di ruang tamu yang menghadap ke taman. Di situ, Ary bia melamun bebas mencari inspirasi.

Seni barang bekas
Memasuki rumah Ary, kesan bahwa rumah itu adalah "rumah seniman" sangat kental. Benda-benda bernilai seni, yang sebagian besar merupakan karya suaminya, terpajang di berbagai sudut ruangan.

Tak hanya berfungsi untuk memperindah rumah, karya-karya Mikhail ini juga memiliki fungsi. Salah satunya adalah pipa-pipa berdiameter kecil yang dibentuk menjadi spiral, ditempatkan di dekat ruang tamu. "Hiasan" itu ternyata pipa yang mengalirkan gas untuk pemanas air di kamar anak.

Di sisi lain ruangan, bentuk pipa ini lebih unik lagi karena dibentuk melengkung seperti tangkai bunga, lalu ditempeli cobek di ujung-ujungnya. "Cobeknya bisa diartikan kalau pemilik rumah, terutama saya, adalah penyuka sambal. Tetapi sebenarnya itu pipa gas juga. Semacam practical art deh," kata Ary.

Karya seni yang dibuat Mikhail tidak selalu terbuat dari materi yang mahal. Banyak di antara karyanya yang dibuat dari barang bekas, misalnya meja di ruang tamu dan ruang makan. Di ruang tamu, kaki meja terbuat dari drum bekas minyak yang diberi warna hitam. Bagian dalam drum diberi batu untuk pemberat. Dengan menempatkan kaca di bagian atasnya, jadilah sebuah meja yang artistik.

Meja makan juga dibuat serupa. Kakinya terbuat dari barang bekas, yaitu besi bekas meja makan lama yang terbakar.

Di kamar anak, sang pemilik rumah memanfaatkan pintu geser seperti yang biasa dipakai di toko-toko kelontong untuk penyekat ruangan. Pintu yang biasanya berwarna abu-abu ini dicat warna hijau sehingga tampilannya lebih cantik.

Roda dokar juga bisa "disulap" menjadi aksesori di ruang tamu. Ketika dokarnya hancur karena selalu terguyur hujan, satu roda dokar yang masih utuh dijadikan hiasan. Mikhail mengatakan, roda itu bermakna seperti kehidupan yang selalu berputar.

"Kami, terutama Mikhail, memang punya prinsip agar tidak banyak membuat sampah. Barang bekas sebisa mungkin dimanfaatkan kalau masih bisa dipakai. Makanya, di gudang banyak tersimpan barang-barang bekas," kata Ary.

Selain berprinsip memanfaatkan barang bekas, desain rumah juga dibikin agar penghuninya bisa merasa dekat dengan alam, yang diwakili pepohonan dan air. Pohon beringin dan kelapa tumbuh di sekitar rumah. Sementara unsur air diwakili lewat kolam renang, air mancur, dan air terjun. Melalui suara air terjun, suara bising dari kendaraan yang lalu lalang di depan rumah bisa "disamarkan". (Lusiana Indriasari/Yulia Sapthiani/KOMPAS Minggu)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Investor China dan Rusia Pembeli Terbanyak Properti di Australia

Posted: 13 Mar 2010 12:47 PM PST

Sabtu, 13/3/2010 | 20:47 WIB

KOMPAS.com - Pasar real estate Australia diuntungkan dengan runtuhnya pasar properti di Dubai karena para pembeli dari China dan Rusia memindahkan investasi mereka ke negeri kanguru tersebut. Para investor dari kedua negara itu kini merupakan pembeli asing terbanyak. Mereka membeli properti residensial, terutama Gold Coast di Queensland.

Tahun lalu, pembeli dari China melakukan transaksi sebesar 22,76 juta dollar AS untuk pembelian rumah dan apartemen, sedangkan pembeli dari Federasi Rusia menandatangani pembelian rumah-rumah di Gold Coast senilai 22,7 juta dollar AS.

Pembeli dari Rusia hampir tidak ada di pasar properti Queensland sekitar 10 tahun yang lalu, menurut Paul Barratt, Project Marketing Director DTZ, sebuah perusahaan penasihat real estate global.

Kekayaan orang-orang Rusia meningkat dari hasil minyak dan tambang. Hal ini membuat para pengembang Australia mencari target pembeli orang-orang Rusia melalui road show di Moskwa, ibu kota Rusia. Langkah ini memberi kontribusi pada jumlah permintaan properti.

Yan Orlievsky, Direktur Moss Capital, grup investasi, mengatakan runtuhnya gelembung properti Dubai menyebabkan investor Rusia mencari pasar yang lebih aman. "Australia selalu menjadi gagasan romantis bagi orang-orang Rusia. Ini menjadi kebanggaan, memiliki investasi di Australia. Rusia memiliki kelas menengah yang terus tumbuh. Mereka memiliki uang tunai untuk berinvestasi. Ini bukan investasi dengan cara berutang," jelasnya.

Investor Rusia bersaing dengan investor China yang selalu menjadi pembeli besar di Australia. Menurut pengembang apartemen terbesar Australia, Harry Triguboff, proporsi pembeli China di lokasi yang sama dapat mencapai 60 persen.  "Saya memperkirakan sekitar 200 juta dollar AS dari penjualan saya, berasal dari para pembeli China setiap tahun," kata Triguboff. Perusahaannya, Meriton, membangun ribuan apartemen di Sydney, Brisbane, dan Gold Coast.

Paul Barratt menambahkan, ada juga peningkatan jumlah pembeli asal Afrika Selatan di Queensland dalam dua tahun terakhir. Para pengembang Australia menargetkan investor Afrika Selatan, menyusul kuatnya perekonomian negara di selatan Afrika tersebut.
 
Permintaan dari pembeli mancanegara juga didorong oleh perubahan yang dilakukan tahun 2008 oleh Badan Peninjau Investasi Asing Australia, yang mengizinkan 100 persen dari sebuah proyek perumahan baru dijual kepada para pembeli asing. Sebelumnya orang asing hanya diperbiolehkan membeli sampai 50 persen dari sebuah proyek properti baru di Australia.

Investor dari Singapura dan Malaysia yang membeli properti di Australia  juga termasuk meningkat. (Sumber: propertywire.com)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Emaar Garap Proyek Baru di Turki, dan Ingin Segera Bangun Resort di Lombok

Posted: 13 Mar 2010 10:36 AM PST

Sabtu, 13/3/2010 | 18:36 WIB

DUBAI, KOMPAS.com - Pengembang terbesar di dunia Arab kini berpaling ke Turki untuk membangun sebuah proyek baru. Dubai's Emaar Properties menganggap pasar real estate di kawasan Teluk masih membutuhkan waktu beberapa lama untuk pemulihan.

Dubai's Emaar Properties yang membangun gedung tertinggi di dunia itu, memiliki tanah di Libadiye, Istanbul, Turki. Pengembang itu sedang menyelesaikan biaya pembangunan sebuah pusat perbelanjaan, apartemen, dan sebuah hotel berbintang lima.

"Emaar melanjutkan pembangunan Proyek Istanbul Baru. Hal ini sejalan dengan strategi perusahaan yang mencari peluang pertumbuhan pada pasar global yang menjanjikan," demikian pernyataan Emaar Properties.  

Ini akan menjadi proyek kedua Emaar di Turki, di mana 32 persen dimiliki Pemerintah Dubai. Tahap pertama proyek senilai 700 juta dollar AS ini sudah selesai
 
Investasi di Lombok

Sebaliknya, belum jelas benar apa yang terjadi pada rencana Emaar di Indonesia. "Indonesia adalah salah satu pasar kunci bagi Emaar, dan ekpansi kami di Indonesia sejalan dengan strategi pertumbuhan perusahaan kami untuk memperluas bisnis ke belahan dunia lain dan mengembangkan segmentasi bisnis. Proyek Lombok akan menciptakan dinamika baru pada sektor properti di wilayah ini, dan proyek gaya resort akan mengkatalisasi investasi di Indonesia," kata CEO Emaar International, Sergio Casari, Juni tahun lalu.
 
"Emaar telah menyelesaikan rencana induk proyek ini. Kami akan menyelesaikan semua formalitas yang dibutuhkan, dan menunggu persetujuan pemerintah untuk memulai pembangunan," tambahnya.

Namun rencana pembangunan resort tepi pantai senilai 600 juta dollar AS belum juga dimulai.Emaar telah melakukan pembicaraan dengan pihak Indonesia pada tahun 2007 untuk pembangunan di Pulau Lombok, pulau tetangga Bali.  Tetapi pembicaraan tersendat menyusul krisis ekonomi global melanda dunia.

Konfirmasi Emaar ini memberi harapan menghidupkan kembali rencana pembangunan vila, hotel, fasilitas belanja, dan lapangan golf. Sudah dibuat kesepakatan dengan Pengembangan Pariwisata Bali, perusahaan yang didukung Pemerintah Indonesia, dalam hal pembagian ekuitas dan pembebasan lahan. (Sumber: propertywire.com)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar