Sabtu, 06 Maret 2010

Rumah Idaman “Pendekatan Personal Penting bagi Arsitek” plus 3 more

Rumah Idaman “Pendekatan Personal Penting bagi Arsitek” plus 3 more


Pendekatan Personal Penting bagi Arsitek

Posted: 06 Mar 2010 08:00 AM PST

Sabtu, 6/3/2010 | 16:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam merancang sebuah karya arsitektur, tentunya dibutuhkan kedisiplinan dan rasa seni yang tinggi. Namun tak cukup hanya itu, arsitek juga harus memiliki kemampuan pendekatan personal terhadap kliennya. "Biasanya kami akan berusaha untuk mengerti kebiasaan dari klien kami, sehingga karya kami nanti benar-benar sesuai dengan keinginan klien," ujar Anggraito Suhartono, dari kantor arsitek A+A saat presentasi dalam acara Sayembara Desain Rumah, di Grand Indonesia, Jakarta, Sabtu (6/3/2010).

Tak hanya itu, menurutnya arsitek pun harus menghargai hal-hal yang dipegang oleh klien. "Kami pernah membuat desain yang harus disesuaikan dengan feng shui. Terkadang ada hal yang sulit kami terima, tetapi tetap harus kami hargai karena itu adalah kebiasaan dari klien kami," katanya.

Anggraito melanjutkan, pendekatan secara personal terhadap klien akan memudahkan arsitek untuk bisa mengembangkan idenya dengan lebih luas. "Klien akan lebih mudah mengerti jika kami memberikan desain yang menurut kami bagus, karena persuasi personal yang telah kami lakukan," tambah Anggraito.

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Indonesia Tidak Miliki Arsitektur

Posted: 06 Mar 2010 07:10 AM PST

Sabtu, 6/3/2010 | 15:10 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Akibat terdiri dari beragam suku dengan budaya yang berbeda-beda, hingga kini Indonesia belum memiliki satu karya arsitektur— sebagai salah satu produk budaya—yang disepakati secara nasional sebagai ciri bangsa. Kendalanya karena faktor yang menjadi acuannya kontradiktif.

Adhi Moersid, pakar arsitektur dari Ikatan Arsitek Indonesia, melontarkan masalah itu dalam diskusi bertema "Crossing Bridges: The Work of the Architect in Contemporary Multicultural Society" di Institut Kebudayaan Italia di Jakarta, Selasa (2/3) malam. Tampil dalam acara itu Marco Kusumawijaya dari Institut Kesenian Jakarta dan arsitek dari Italia, Avio Mattiozzi, yang mempresentasikan karya arsitek kenamaan Paolo Portoghesi berupa masjid di Roma.

Dalam penciptaan karya arsitektur, ujar Adhi, seorang arsitek bukan sekadar mengacu pada kondisi geografis dan lingkungan setempat, tetapi juga berdasarkan akar budaya, adat istiadat, bahkan religi yang dianut masyarakatnya. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya menetapkan arsitektur sebagai ciri khas bangsa Indonesia yang diakui dalam skala nasional.

Sebaliknya, produk arsitektur yang mengacu pada kondisi lingkungan Indonesia yang beriklim tropis basah tidak menjadi masalah atau bisa diterima umum.

Dua pendekatan
Menurut Adhi, dalam menciptakan desain arsitektur untuk sebuah bangunan, setidaknya perlu berpegang pada dua pendekatan. Pertama, yaitu becermin pada khazanah ilmu arsitektur yang sudah dimiliki. Selain itu, arsitek perlu menimba makna falsafah, adat istiadat, dan komponen arsitektur tradisional yang dianut pengguna bangunan.

Ia mengambil contoh proses perancangan arsitektur yang dilakukannya untuk sebuah Gereja Huria Kristen Batak Protestan di Tebet. Dalam pencarian bentuk arsitektur bagi gereja itu, komunitas gereja diikutsertakan. Selain itu, bentuk rumah adat Batak juga menjadi acuannya, "Yang menjadi titik tolak dan ciri khas gereja ini adalah atap dan ekspose strukturnya yang jelas," ujar Adhi.

Selain membangun gereja, dengan pendekatan yang sama, Adhi juga membangun masjid. Salah satu arsitektur masjid karyanya pada 1972 memenangi Aga Khan Award.

Globalisasi arsitektur
Sementara itu, menurut Marco, dalam era globalisasi ini seorang arsitek hendaknya dapat memasukkan nilai universal dan menyatukan banyak kultur dalam karyanya, termasuk arsitektur lokal.

Dalam kenyataannya, arsitek di Indonesia dalam penciptaan karyanya banyak terpengaruh pada unsur asing. Hal ini tidak terhindarkan.

Fenomena yang sama juga terjadi di negara lain. Portoghesi dalam penciptaan masjid di pusat kota Roma yang merupakan pusat agama Katolik ,menurut Avio, juga memasukkan banyak unsur arsitektur asing di samping lokal.

Portoghesi, dosen di Universitas Roma, memenangi sayembara arsitektur masjid di Roma pada tahun 1974. Selama empat tahun ia mempelajari arsitektur masjid di Sudan, Turki, Mesir, dan Tunisia.

Konsep masjid yang diambilnya, antara lain pencahayaan alami, lengkungan saling silang, dan pilar-pilar yang menggambarkan hutan Magribi. Selain itu, juga digunakan lingkaran konsentris yang menggambarkan kosmologi tujuh langit.

Unsur lokal
Selain memadukan konsep masjid dari sejumlah negara, Portoghesi juga memasukkan unsur arsitektur Italia atau Roma.

"Yang membedakan Masjid Roma dengan mesjid umumnya di negara Arab adalah fungsi menara. Menara digunakan untuk mengumandangkan azan. Namun, di Masjid Roma, menara merupakan kelengkapan bangunan tersebut. Untuk mengetahui waktu shalat penduduk cukup melihatnya di papan pengumuman atau melalui akses di internet," ujar Avio.

Modifikasi ini, menurut Adhi, dimungkinkan sebagai upaya adaptasi dengan tradisi masyarakat setempat.  Hal inilah yang membuat keberadaan Masjid Roma diterima dalam komunitas masyarakat Roma yang mayoritas beragama Katolik.

Pembangunan masjid tanpa menara, lanjut Adhi, juga dimungkinkan dengan melihat sejarah keberadaan menara itu pada masa lalu. Karena itu, larangan pembangunan menara di Swiss tidak akan menghalangi pembangunan masjid sendiri. (Yuni Ikawati/KOMPAS Cetak)

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Komunitas Belajar Desain: Tak Ingin Dibatasi Oleh Arsitektur

Posted: 06 Mar 2010 07:01 AM PST

Sabtu, 6/3/2010 | 15:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Dunia arsitektur selama ini masih terkesan eksklusif, yaitu hanya menjadi ranah para arsitek. Tentunya hal ini wajar karena dunia arsitektur sendiri memerlukan disiplin tersendiri. Namun ide untuk arsitektur ternyata tak hanya muncul dari dunianya sendiri, tetapi juga dari bidang lain. Hal inilah yang menjadi latar belakang pembentukan Komunitas Belajar Desain.

"Kami tidak ingin ide untuk arsitektur hanya dibatasi oleh dunia arsitek saja. Karena ide itu justru bisa diperoleh darimana saja," ujar Sigid, anggota dari Komunitas Belajar Desain. Ide untuk arsitektur menurutnya bisa diperoleh dari musik, fotografi, seni rupa, dan bidang-bidang lainnya.

Komunitas ini juga terbuka untuk mereka yang bukan berlatarbelakang pendidikan arsitektur, ataupun masih baru dalam dunia desain. Dalam komunitas ini, para anggotanya diperkenankan untuk berdiskusi mengenai desain arsitektur. Bahkan dalam acara tertentu, anggota dari komunitas ini diperkenankan untuk mempresentasikan rencana proyek desain arsitekturnya.

Biasanya presentasi ini dilakukan dengan bentuk gathering dan diskusi santai. Bagi anda yang ingin bergabung dengan komunitas ini, silahkan kunjungi mailing list milik mereka di belajardesain@yahoogroups.com. Komunitas Belajar Desain juga membuat grup di situs jejaring sosial, Facebook.
 

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Ekonomi Hongkong Paling Inovatif di Asia

Posted: 06 Mar 2010 06:47 AM PST

Sabtu, 6/3/2010 | 14:47 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com - Ekonomi Hongkong dinilai paling inovatif di Asia. Penilaian ini berdasarkan pada tingkat kreativitas dan pasar finansial yang berkembang baik di daerah teritori China ini. Demikian diungkapkan sebuah studi yang dirilis Kamis pekan ini.

Hasil studi bersama sekolah bisnis internasional INSEAD dan Konfederasi Industri India itu menyebutkan, Hongkong mengalahkan saingannya, Singapura yang berada di ranking kedua Asia.  Di tingkat global, Hongkong berada di urutan ketiga dalam Indeks Inovasi Global, sedangkan Singapura pada posisi ketujuh.

Kriteria yang digunakan dalam survei ini adalah ekonomi, publikasi jurnal imiah, riset dan pengembangan bagaimana inovasi mendukung kesejahteraan rakyat, daya saing dan pertumbuhan,
 
Hongkong, Singapura, dan Selandia Baru merupakan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik yang masuk dalam 10 besar tingkat global.

Eslandia berada di tingkat paling atas dalam daftar inovasi global meskipun masih terbelit kesulitan ekonomi, disusul Swedia. Swiss berada di posisi keempat setelah Hongkong.  Posisi ke-5 sampai ke-10 masing-masing Denmark, Filandia, Singapura, Belanda, Selandia Baru, dan Norwegia.
 
Amerika Serikat, yang pada tahun lalu berada di urutan pertama, tahun ini merosot ke posisi ke-11, mendapat tantangan dari negara-negara lainnya yang menekankan pada pendidikan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
 
Studi ini menekankan inovasi sebagai sebuah kunci pendorong pertumbuhan, memainkan "peranan penting tidak hanya dalam memfasilitasi pemulihan negara-negara, tetapi juga mempertahankan daya saing nasional".  
 
"Pemimpin nasional dan pengusaha berjuang menyeimbangkan antara kebutuhan jangka pendek untuk mempertahankan hidup dan menemukan sumber-sumber baru pertumbuhan," demikian ungkap studi ini.
 
Laporan Indeks Inovasi Global tahun 2010 ini mencakup 132 tingkat ekonomi di mana 96 persen merupakan GDP dunia.

Jepang, ekonomi terbesar Asia, berada di urutan ke-13 dalam indeks ini, dan Australia di posisi ke-18.  Taiwan rangking 25, sedangkan China, yang diharapkan mengejar Jepang sebagai ekonomi kedua terbesar dunia, berada pada posisi ke-43 dalam indeks global ini.

Studi ini menyebutkan, China mencatat angka yang tinggi ketika pemerintah mendukung berbagai langkah mendorong pengembangan riset dan iptek, namun China dinilai lemah dalam kreativitas dan kecanggihan pasar. (Channel News Asia)   

Five Filters featured article: Chilcot Inquiry. Available tools: PDF Newspaper, Full Text RSS, Term Extraction.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar